Bagaimana nasib pembelajaran konvensional bangsa kita di era digital saat ini? Di mana semakin banyak lembaga-lembaga pendidikan formal yang menerapkan sistem pembelajaran berbasis daring (online). Ditambah lagi maraknya aplikasi-aplikasi belajar online yang ditawarkan dengan biaya lebih murah hingga banyak diminati dibandingkan lembaga dengan metode pembelajaran konvesional. 

Dengan pembelajaran metode konvesional, murid lebih banyak mendengarkan penjelasan guru di depan kelas dan melaksanakan tugas jika guru memberikan latihan soal-soal. Yang sering digunakan pada pembelajaran konvensional antara lain metode ceramah, metode tanya jawab, metode diskusi, metode penugasan. Hal tersebutlah, yang menyebabkan metode pembelajaran konvensional cenderung membosankan, membuat daya serap rendah, cepat hilang, karena bersifat menghafal. Selain itu, pembelajaran konvensional lebih menekankan kepada penguasaan konsep-konsep, bukan kompetensi.

Lain hal dengan metode pembelajaran online. Hanya cukup pasang aplikasi di gadjet, lalu transfer sejumlah uang, maka pembelajaran akan langsung disampaikan secara elektronik menggunakan jaringan internet. Konsep pembelajaran online memposisikan murid untuk belajar aktif dan mandiri. Murid dapat melakukan kajian bahan belajar setiap saat tanpa perlu datang ke tempat belajar yang berjarak jauh dari rumah, yang artinya juga menghemat biaya transportasi.

Namun, dari sekian banyak dampak positifnya, tetaplah tidak sebanding dengan dampak negatifnya. Metode online ini, akan mengurangi aktivitas fisik, belum lagi ancaman bahaya radiasi dari gadjet pada mata. Untuk memiliki aplikasi belajar online dibutuhkan gadjet modern dengan memori yang besar dan juga membutuhkan quota internet, sehingga perlu biaya besar untuk memenuhi kebutuhannya.

Lalu, dapatkah peran guru begitu saja digantikan dengan kehadiran sebuah aplikasi pembelajaran? Ini lebih buruk lagi, jika benar terjadi, betapa sangat mengerikan. Maka, tidak ada lagi hubungan sosial berupa tatap muka dan komunikasi secara langsung dengan guru. Artinya, jelas akan menghilangkan jalinan emosional, silaturahmi, keberkahan dan kasih sayang antara guru dan murid. Akibatnya, murid kurang pandai mengolah emosi, hingga tidak memiliki kemampuan untuk belajar etika-etika bersosialisasi dengan baik.

Dalam kitabnya yang berjudul “Adabul ‘alim Muta’alim”, Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari, menerangkan setidaknya ada beberapa macam etika pelajar terhadap guru. Antara lain, mempertimbangkan terlebih dahulu tentang siapa yang dianggap paling baik untuk menjadi gurunya. Pertimbangannya meliputi akhlak sang guru, kecakapan, kredibilitas, dan kehati-hatiannya dalam berpikir dan bertindak. Yang artinya dalam menuntut ilmu seseorang memerlukan kehadiran sosok guru yang dapat menjadi teladan. Sehingga muncul sanad keilmuan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Sedangkan hal tersebut tidak bisa diperoleh dari sistem pembelajaran online.

Sebagaimana peran guru yang tidak hanya sekedar memberikan materi pelajaran, namun juga nasihat-nasihat yang bisa menambah wawasan dan membimbing pola pikir ke masa depan yang lebih bagus. Maka, metode apapun yang dipilih, pendidikan konvensional ataupun online, hendaknya dapat mendukung proses pembelajaran untuk memberi hasil maksimal dan optimal bagi murid. Tentu saja, tanpa meninggalkan pentingnya interaksi langsung antara guru dan murid. Jadikan pembelajaran online hanyalah sebagai mitra untuk melengkapi peran guru pada pembelajaran konvensional. Sehingga nilai-nilai luhur tentang penghormatan kepada seorang guru, tidak akan luntur ditengah gempuran kemajuan teknologi digital.

Nurhaeni Arief, Mahasiswa PGSD UNU Yogyakarta.