Gus Hilmy : Menghadapi Pakulinan Enggal, Kita Butuh Kebiasaan Baru

Memasuki bulan syawal atau Idul Fitri di tengah musim pandemi Covid-19 menjadi tantangan baru masyarakat muslim. Salah satu anggota DPD RI perwakilan DIY Hilmy Muhammad atau bisa di panggil Gus Hilmy dalam ceramah halal bi halal online yang diselenggarakan UNU Jogja mengatakan, Fitri artinya kembali menjadi manusia yang tumbuh, manusia yang terlahir kembali sebagaimana diciptakan di awal kehidupan oleh Allah SWT, mengajarkan kita untuk kembali belajar berlaku jujur, amanah, sabar, tawakal, berbagi dengan sesama, bersedekah dan toleran.

Saat ini dengan keadaan pandemi Covid-19 melatih kembali kesabaran dan ketawakalan. Tentu banyak instruksi yang sudah dianjurkan oleh pemerintah, pihak swasta, kiai dan pesantren dalam menghadapi Covid-19 dalam pandangan ajaran islam sendiri. Masyarakat kembali harus tetap menahan diri untuk tidak keluar rumah, kecuali mendesak. Seperti halnya dengan kebijakan pemerintah yang menghapus jadwal pemberangkatan haji di tahum ini.

“Kalau sekarang tidak bisa menjalankan ibadah haji berarti kita belum di panggil ke Baitullah. Tidak haji tahun ini, berarti di tunda. Tidak perlu ngomel, karena ini bukan kemauan dari pemerintah. Ibadah haji kita tertunda, kini saatnya kita menata niat. Sabar, insyaallah kita bisa menunaikannya dengan persiapan yang lebih baik” ungkapnya.

Hilmy mengatakan dalam menghadapi musim pakulina enggal atau new normal, masyarakat tidak perlu tergesa-gesa membuka tempat umum, membuka madrasah, kelas kuliah, atau pesantren. Meski demikian semangat akan kesadaran kita untuk menuntut ilmu saat ini bisa dilakukan secara online dengan memanfaatkan system teknologi.

“Meskipun secara online, kalau sungguh-sungguh memiliki kemauan dan komitmen yang kuat, Allah SWT akan membalas sesuai dengan niat”

Dalam era new normal masyarakat butuh kebiasaan baru, dengan tatanan dan model baru. Selain itu masyarakat dituntut untuk bersabar dalam kondisi ini.

“Dalam situasi seperti ini, UNU Jogja sudah memiliki civitas academia yang siap menghadapi perubahan era dengan tetap memegang teguh tigal ruh universitas, yakni bridging: kemampuan menjadi jembatan, dari keadaan lama ke keadaan yang baru seperti situasi Covid-19 saat ini. Kedua innovation: kemampuan mencari celah di tengah situasi genting untuk berkembang lebih maju. Terakhir, contextual: keberadaan kita harus bisa hadir dan bermanfaat bagi lingkungan kita” jelasnya. (Latifah)