Ketahanan Pangan Tak Berhenti di Sawah: Inovasi THP dari Panen hingga Meja Makan
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 16 Oct, 2026
Est. 5 Menit

Oleh: Subekti Hartiningsih
[OPINI] Bayangkan petani berhasil memanen tomat dalam jumlah melimpah, tetapi sebagian hasilnya membusuk sebelum sampai ke konsumen. Di sisi lain, masih ada keluarga yang kesulitan memperoleh pangan bergizi dengan harga terjangkau. Dua kenyataan ini mengingatkan kita bahwa persoalan pangan tidak cukup dijawab dengan meningkatkan hasil panen. Yang tidak kalah penting ialah memastikan pangan tetap aman, bermutu, dan bermanfaat hingga dikonsumsi.
Pesan tersebut sejalan dengan Hari Pangan Sedunia, 16 Oktober 2026, yang mengusung tema “Innovate today. Nourish tomorrow.” atau “Berinovasi hari ini, memberi gizi bagi masa depan.” Tema Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) ini menegaskan bahwa masa depan pangan membutuhkan inovasi yang berpijak pada ilmu pengetahuan sekaligus kebutuhan nyata masyarakat.
Selama ini, ketahanan pangan sering diukur dari banyaknya produksi dan ketersediaan bahan pangan. Padahal, setelah dipanen, komoditas pertanian masih menghadapi perjalanan panjang: sortasi, penyimpanan, pengolahan, pengangkutan, pemasaran, hingga akhirnya tersaji di meja makan. Setiap tahapan menyimpan risiko kehilangan pangan (food loss) maupun pemborosan pangan (food waste). Secara sederhana, food loss terjadi sebelum tingkat ritel, sedangkan food waste muncul pada tingkat ritel dan konsumsi. Ketika penanganannya tidak tepat, tambahan produksi belum tentu berarti tambahan pangan yang dapat dinikmati masyarakat.
Besarnya persoalan ini tercermin dalam kajian Kementerian PPN/Bappenas pada 2021. Untuk periode 2000–2019, timbulan kehilangan dan pemborosan pangan di Indonesia diperkirakan mencapai 23–48 juta ton per tahun, dengan kerugian ekonomi Rp213–551 triliun per tahun. Angka historis tersebut memperlihatkan betapa besarnya potensi pangan dan sumber daya yang terbuang. Bersama pangan yang hilang, ikut terbuang pula air, energi, tenaga kerja, dan biaya yang telah dikeluarkan untuk memproduksinya.
Di sinilah Teknologi Hasil Pertanian (THP) memegang peran penting. THP bukan sekadar ilmu membuat makanan olahan. Bidang ini mempelajari bagaimana hasil pertanian ditangani, diproses, dikemas, dan dijaga mutunya agar lebih awet, aman, tetap bernilai gizi, serta memiliki nilai ekonomi. Pengeringan yang sesuai dapat memperpanjang daya simpan komoditas tertentu. Penyimpanan bersuhu terkendali membantu menjaga kesegaran produk yang mudah rusak. Pengemasan yang tepat, termasuk pengemasan vakum untuk produk yang sesuai, dapat membantu melindungi mutu selama distribusi apabila dipadukan dengan pengendalian suhu dan kebersihan. Namun, tidak ada satu teknologi yang cocok untuk semua bahan; kadar air, sifat produk, dan kondisi distribusi harus menjadi pertimbangan.
Potensinya semakin besar jika dikaitkan dengan pangan lokal. Singkong dapat dikembangkan menjadi tepung termodifikasi untuk aneka produk; pisang yang tidak memenuhi standar penampilan pasar, tetapi masih layak dan aman, dapat diolah menjadi puree atau bahan baku pangan; sementara hasil hortikultura yang melimpah pada musim panen dapat diarahkan menjadi produk olahan dengan umur simpan lebih panjang. Inovasi semacam ini bukan bertujuan menyulap bahan rusak menjadi makanan, melainkan mencegah bahan yang masih bermutu kehilangan kesempatan untuk dimanfaatkan. Diversifikasi pangan lokal juga dapat mengurangi ketergantungan konsumsi pada segelintir komoditas.
Namun, inovasi tidak boleh berhenti pada penciptaan produk baru di laboratorium. Produk harus aman, disukai konsumen, terjangkau, dan layak secara ekonomi. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), teknologi sederhana yang konsisten dan dapat dijalankan sering kali lebih bernilai dibandingkan peralatan canggih yang sulit dirawat.
Karena itu, diperlukan langkah bersama. Pemerintah dan pelaku usaha dapat memperkuat fasilitas penanganan pascapanen, penyimpanan, serta akses pengolahan di sentra produksi. Perguruan tinggi perlu mendampingi petani dan UMKM dalam penerapan proses, pengemasan, pengendalian mutu, dan keamanan pangan. Pencatatan jenis dan jumlah pangan yang terbuang di setiap mata rantai juga penting agar intervensi tepat sasaran. Sementara itu, masyarakat dapat mengurangi pemborosan melalui belanja secukupnya, penyimpanan sesuai jenis bahan, pemanfaatan pangan berlebih yang masih aman, serta kebiasaan mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Industri Halal, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, memiliki ruang kontribusi melalui pendidikan, penelitian pangan lokal, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa THP perlu dibekali kemampuan menghubungkan ilmu pangan dengan persoalan nyata, dari pengurangan susut hasil panen sampai pengembangan usaha pangan yang aman dan berkelanjutan. Kampus harus hadir bukan hanya sebagai penghasil gagasan, melainkan juga mitra yang membantu menghadirkan solusi.
Hari Pangan Sedunia semestinya menjadi pengingat bahwa keberhasilan sistem pangan tidak ditentukan hanya oleh seberapa banyak yang kita tanam dan panen, tetapi juga seberapa banyak yang berhasil kita jaga dan manfaatkan. Ketahanan pangan harus dibangun dari sawah hingga meja makan. Sebab, pangan yang paling berharga bukan sekadar yang berhasil diproduksi, melainkan yang benar-benar sampai kepada masyarakat dalam keadaan aman, bergizi, dan terjangkau.*
Penulis: Subekti Hartiningsih, dosen Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Teknologi Hasil Pertanian.
Editor : Latifah
*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya penulis. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi.
Bagikan
Berita Terkait

PBI UNU Jogja Gandeng Kampung Inggris Jogja, Buka Peluang Pengembangan Karier Mahasiswa
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 20 Oct, 2026 | Durasi. 3 Menit

UNU Jogja Petakan Kemampuan Baca Al-Qur’an untuk Perkuat Pembinaan Mahasiswa Baru
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 16 Oct, 2026 | Durasi. 3 Menit

UNU Jogja Perkuat Perlindungan Kekayaan Intelektual melalui Workshop Penulisan Draft Paten bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum & HAM RI
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 14 Oct, 2026 | Durasi. 4 Menit
Berita Populer
Lima Alumni PGSD UNU Jogja Lolos PPG, Siapkan Diri Menjadi Guru Masa Depan
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 1 Oct, 2026 | Durasi. 4 Menit
Muhamad Chaerul Faalih, Mahasiswa Manajemen UNU Jogja Raih 2nd Runner Up Putra Bahari DIY 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 30 Sep, 2026 | Durasi. 5 Menit
Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit
Mewakili DIY, Agung Putra Darmara, Mahasiswa Prodi Manajemen UNU Jogja Raih Juara Harapan 2 Duta Genre Indonesia 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Sep, 2026 | Durasi. 6 Menit
