Member Logo

Merdeka dari Lupa

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 14 Aug, 2026

Est. 10 Menit

Merdeka dari Lupa

Oleh : Sutiyono, S.Pd., M.Pd 

[OPINI] Bulan Agustus selalu membawa kita pada satu kata yang memiliki daya magis: merdeka. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, sekolah, kampus, kantor, hingga pelosok desa. Lagu kebangsaan kembali dinyanyikan dengan penuh semangat. Berbagai perlombaan digelar, dari panjat pinang hingga lomba yang kadang lebih serius daripada rapat RT. Semua itu adalah cara kita merayakan kemerdekaan. 

Namun, di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan, ada satu pertanyaan yang barangkali perlu kita renungkan: sudahkah kita benar-benar merdeka dari lupa terhadap akar budaya kita sendiri? Pertanyaan ini penting karena Indonesia hari ini hidup dalam dunia yang semakin terhubung. Anak-anak kita tumbuh bersama internet, media sosial, kecerdasan buatan, budaya populer global, dan berbagai nilai yang datang dari berbagai penjuru dunia. Dunia pendidikan pun tidak terlepas dari arus global tersebut.

Kita mengenal istilah global citizenship, social emotional learning, pendidikan karakter, kompetensi abad ke-21, dan berbagai konsep pendidikan global lainnya. Semua memiliki tujuan baik yaitu membentuk manusia yang mampu hidup bersama, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, dan mampu menghadapi persoalan dunia. Tetapi ada satu persoalan yang tidak boleh kita abaikan prinsip tentang jangan sampai ketika ingin menjadi warga dunia, kita justru kehilangan kemampuan menjadi manusia yang berakar pada tanah sendiri.

Jangan Menjadi Global dengan Kehilangan Lokal

Globalisasi tidak selalu berarti penyeragaman. Dunia yang semakin terbuka justru seharusnya memberi ruang bagi setiap bangsa untuk menunjukkan kekayaan nilai yang dimilikinya. Di sinilah gagasan glokalisasi menjadi penting. Glokalisasi adalah penggabungan dari kata globalisasi dan lokalisasi. Glokalisasi juga dapat dipahami sebagai proses ketika gagasan global diterima, diterjemahkan, dan dikembangkan berdasarkan konteks lokal. Dengan kata lain, kita tidak harus memilih antara menjadi lokal atau menjadi global. Kita dapat menjadi lokal sekaligus global.

Indonesia memiliki modal luar biasa untuk menjalankan konsep glokalisasi dengan berbagai kearifan lokalnya. Sayangnya, kearifan lokal sering kali hanya ditempatkan sebagai ornamen kebudayaan. Ia muncul dalam festival, pakaian adat, pertunjukan seni, atau slogan-slogan kebudayaan. Padahal, kearifan lokal sesungguhnya menyimpan sistem nilai yang dapat menjadi pedoman kehidupan.

Yogyakarta memberikan contoh menarik melalui Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) dengan tiga nilai utama yaitu Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti. Data riset tentang peace education dan kearifan lokal di Yogyakarta menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal tersebut tidak berhenti sebagai konsep filosofis. Nilai-nilai tersebut dinegosiasikan dan diterjemahkan oleh guru dalam kehidupan sehari-hari atau menjadi everyday peace seperti dicetuskan  Roger Mac Ginty. 

Menariknya, proses tersebut tidak selalu mudah. Guru menghadapi berbagai tantangan seperti disrupsi digital, lingkungan keluarga yang kurang mendukung, keterbatasan sumber daya, hingga kesenjangan generasi dalam memahami budaya. Namun, para guru tidak menyerah pada keadaan. Mereka menggunakan strategi pembiasaan, keteladanan, kontekstualisasi, serta pelibatan keluarga agar nilai-nilai lokal tetap relevan bagi anak-anak masa kini. Di sinilah kita menemukan makna penting kemerdekaan. Melestarikan budaya bukan berarti memaksa anak kembali hidup seperti masa lalu. Melestarikan budaya berarti memastikan nilai baik dari masa lalu tetap mampu menjawab persoalan masa kini.

Dari Falsafah Jawa untuk Persoalan Dunia

Mari kita lihat salah satu nilai dalam PKJ, yaitu ngajeni, yang berarti menghormati atau memuliakan orang lain. Nilai ini sangat jawasentris, tetapi persoalan yang dapat dijawabnya sama sekali tidak hanya berlaku untuk orang Jawa. Ketika seorang anak belajar menghormati orang lain, ia sedang belajar mencegah perundungan. Ketika seorang siswa belajar mendengarkan pendapat temannya, ia sedang belajar menyelesaikan konflik. Ketika seseorang mampu menghargai perbedaan, ia sedang membangun perdamaian. Hal ini selaras dengan teori yang disampaikan Johan Galtung tentang positive peace bahwa perdamaian bukan sekadar tidak adanya kekerasan, tetapi membangun kondisi yang memungkinkan manusia hidup adil dan bermartabat. Dengan demikian, sebuah nilai yang lahir dari pengalaman budaya lokal dapat memiliki relevansi universal.

Penelitian ini menunjukkan bahwa guru di Yogyakarta memaknai nilai ngajeni sebagai bagian dari praktik membangun perdamaian, termasuk dalam pencegahan bullying dan penyelesaian konflik. Bukankah ini menarik? Dunia sedang sibuk mencari berbagai formula untuk membangun masyarakat yang damai. Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan nilai yang selama berabad-abad telah hidup dalam masyarakatnya. Persoalannya bukan apakah kita memiliki nilai. Persoalannya adalah apakah kita cukup percaya diri untuk mengolah nilai tersebut menjadi pengetahuan yang dapat dibaca dunia.

Hamemayu Hayuning Bawana: Merawat Dunia

Nilai Hamemayu Hayuning Bawana mengandung gagasan tentang upaya memperindah, menjaga, dan menyelaraskan kehidupan dunia. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa global hari ini, kita dapat menemukan keterkaitannya dengan isu keberlanjutan, kepedulian lingkungan, tanggung jawab sosial, dan kehidupan bersama.

Dunia hari ini berbicara tentang sustainable development goals. Kita berbicara tentang Hamemayu Hayuning Bawana. Terminologinya mungkin berbeda. Tetapi bukankah terdapat perjumpaan gagasan di dalamnya? Hal ini menunjukkan bahwa kearifan lokal tidak selalu harus dipertentangkan dengan pengetahuan global. Keduanya justru dapat berdialog.

Sangkan Paraning Dumadi: Manusia yang Tidak Kehilangan Arah

Nilai Sangkan Paraning Dumadi mengajak manusia menyadari asal-usul dan tujuan keberadaannya. Di tengah kehidupan modern yang serbacepat, nilai ini menjadi sangat relevan. Kita memiliki anak-anak yang mampu mengoperasikan teknologi sejak usia dini. Mereka dapat menemukan informasi dalam hitungan detik. Mereka dapat membuat konten, menggunakan kecerdasan buatan, dan berkomunikasi dengan orang dari berbagai negara.Tetapi pertanyaan yang lebih mendasar tetap harus diajukan adalah apakah mereka tahu untuk apa semua kemampuan itu digunakan?

Kemajuan teknologi tanpa orientasi moral dapat menghasilkan manusia yang semakin pintar tetapi tidak semakin bijaksana. Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan “how to do”. Pendidikan juga harus mengajarkan “why we do it”.Di sinilah nilai lokal dapat menjadi kompas.

Manunggaling Kawula Gusti: Relasi, Tanggung Jawab, dan Kehidupan Bersama

Sementara itu, Manunggaling Kawula Gusti membawa gagasan tentang hubungan manusia dengan Tuhan dan kehidupan yang lebih luas. Dalam konteks pendidikan, nilai ini dapat diterjemahkan menjadi kesadaran bahwa manusia bukan makhluk yang hidup sendirian. Ia memiliki hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan masyarakat. Gagasan tersebut menjadi semakin penting ketika kehidupan modern cenderung mendorong individualisme. Media sosial dapat membuat manusia terkoneksi secara digital, tetapi belum tentu terkoneksi secara sosial dan emosional. Kita bisa memiliki ribuan pengikut, tetapi belum tentu memiliki kepedulian terhadap tetangga. Kita bisa viral, tetapi belum tentu berkarakter. Kita bisa menjadi content creator, tetapi belum tentu menjadi character creator bagi generasi berikutnya. Di sinilah pendidikan berbasis nilai lokal menemukan relevansinya.

Pada konteks pembelajaran di kelas, Manunggaling Kawula Gusti juga bisa diartikan sebagai kesetaraan. Siswa ditempatkan bukan hanya sebagai objek pembelajaran tetapi juga subjek pembelajar. Siswa ditempatkan layaknya manusia secara utuh yang memiliki pendapat, latar belakang, dan pengetahuan berbeda. Nilai ini pun selaras dengan teori critical pedagogy  Paulo Freire bahwa pendidik harus bisa menempatkan konteks kesetaraan pada saat pembelajaran, sehingga terjadi dialog. Bukan, one man show yang hanya ceramah saja dan khawatir jika disanggah murid di era keterbukaan informasi. Di sinilah nilai Manunggaling Kawula Gusti sebenarnya mengilhami untuk menempatkan manusia sebagai pribadi yang merdeka yang memiliki kebebasan untuk berpendapat dengan dasar akademis.

Kemerdekaan yang Sesungguhnya: Tidak Minder terhadap Budaya Sendiri

Bulan Kemerdekaan seharusnya tidak hanya menjadi momentum untuk mengingat bagaimana bangsa ini terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga harus menjadi kesempatan untuk membebaskan diri dari mentalitas bahwa sesuatu yang datang dari luar selalu lebih maju daripada yang lahir dari dalam negeri. Kita tidak boleh anti-globalisasi. Dunia memang sudah terhubung dan tidak mungkin diputar kembali. Namun, menjadi global tidak berarti harus menjadi salinan dari bangsa lain.

Indonesia justru dapat mengambil posisi yang lebih percaya diri, terbuka terhadap dunia, tetapi tetap mengakar pada budaya sendiri. Kita menerima pengetahuan global, kemudian berdialog dengannya menggunakan kekayaan pengalaman lokal. Inilah esensi glokalisasi seperti yang disampaikan Roland Robertson. 

Dalam konteks pendidikan, guru tidak semestinya hanya menjadi pelaksana kebijakan. Mereka adalah penerjemah budaya dan nilai. Penelitian tentang implementasi PKJ menunjukkan bahwa guru berperan sebagai cultural brokers yang mempertemukan berbagai tuntutan pendidikan global, kebijakan nasional, filosofi lokal, dan realitas kehidupan peserta didik. Adapun PKJ menjadi identitas lokal (cultural citizenship). Peran seperti inilah yang perlu diperkuat.

Dari Yogyakarta untuk Indonesia, dari Indonesia untuk Dunia

Yogyakarta memiliki posisi yang menarik dalam konteks ini. PKJ menunjukkan bahwa sebuah wilayah dapat mengembangkan pendidikan karakter berdasarkan filosofi budaya sendiri tanpa harus menutup diri dari perkembangan global. Justru sebaliknya. Nilai lokal dapat menjadi sumber epistemologis untuk memperkaya percakapan global mengenai pendidikan karakter, perdamaian, dan kehidupan bersama. Bagaimana jika nilai gotong royong, tepa selira, ngajeni, musyawarah, hamemayu hayuning bawana, dan berbagai kearifan lokal lainnya tidak hanya diajarkan kepada anak-anak Indonesia?

Bagaimana jika nilai-nilai tersebut diteliti secara serius, dikembangkan menjadi model pendidikan, diuji secara ilmiah, diterjemahkan ke dalam bahasa akademik internasional, kemudian diperkenalkan kepada dunia? Kita tidak lagi hanya menjadi konsumen teori. Indonesia dapat menjadi produsen gagasan. Kita tidak hanya belajar dari dunia. Dunia juga dapat belajar dari Indonesia.

Merdeka dari Lupa

Pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang membebaskan tubuh dari penjajahan. Kemerdekaan juga tentang membebaskan pikiran dari rasa rendah diri terhadap identitas sendiri. Bangsa yang besar bukan bangsa yang menolak dunia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan dirinya. 

Oleh karena itu, pada Bulan Kemerdekaan ini, mungkin kita tidak perlu bertanya terlalu jauh tentang apa yang dapat kita berikan kepada dunia. Coba kita mulai dari pertanyaan sederhana tentang nilai baik apa dari rumah, kampung, desa, daerah, dan budaya kita yang masih relevan untuk menyelesaikan persoalan global hari ini?

Barangkali jawabannya ada dalam filosofi Jawa. Barangkali ada dalam gotong royong masyarakat Nusantara. Barangkali ada dalam tradisi musyawarah. Barangkali ada dalam tepa selira. Barangkali ada dalam ngajeni. Tugas kita bukan sekadar melestarikannya sebagai kenangan. Tugas kita adalah membuatnya hidup. Sebab kebudayaan yang hanya disimpan di museum akan menjadi sejarah. Tetapi kebudayaan yang mampu menjawab persoalan zaman akan menjadi kekuatan peradaban.

Dengan demikian, di Bulan Kemerdekaan ini mari kita tidak hanya mengibarkan Merah Putih. Mari kita juga mengibarkan kepercayaan diri bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai yang layak dipelajari dunia. Berakar di tanah sendiri, terbuka kepada dunia, dan memberi makna bagi kemanusiaan. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Itulah glokalisasi yang seharusnya kita perjuangkan. Berawal dari Yogyakarta, kita dapat mengirim satu pesan sederhana kepada dunia tentang Indonesia tidak hanya ingin menjadi bagian dari dunia. Indonesia juga ingin ikut memberi arah bagi dunia.*

Penulis : Sutiyono, S.Pd., M.Pd merupakan dosen mata kuliah Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan (PPKn) dan sejumlah Mata Kuliah Dasar Umum di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta.  

Editor : Latifah

*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya kontributor. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi. 

Bagikan

Berita Terkait

19 Mahasiswa Program Studi SII UNU Jogja Lolos Program Prima Magang PTKI Kemenag

19 Mahasiswa Program Studi SII UNU Jogja Lolos Program Prima Magang PTKI Kemenag

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 21 Sep, 2026 | Durasi. 2 Menit

Mengapa Kebijakan Pendidikan Perlu Menjadi Bagian dari Percakapan Kebijakan Nasional

Mengapa Kebijakan Pendidikan Perlu Menjadi Bagian dari Percakapan Kebijakan Nasional

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 18 Sep, 2026 | Durasi. 5 Menit

UNU Jogja Persiapkan Akreditasi Unggul, LPM Perkuat Mutu Fakultas dan Direktorat melalui PPEPP

UNU Jogja Persiapkan Akreditasi Unggul, LPM Perkuat Mutu Fakultas dan Direktorat melalui PPEPP

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 17 Sep, 2026 | Durasi. 2 Menit

UNU Jogja Sosialisasikan RIP, Renstra, dan Renop Menuju Kampus Unggul dan Berdaya Saing Global

UNU Jogja Sosialisasikan RIP, Renstra, dan Renop Menuju Kampus Unggul dan Berdaya Saing Global

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 14 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Berita Populer

Mewakili DIY, Agung Putra Darmara, Mahasiswa Prodi Manajemen UNU Jogja Raih Juara Harapan 2 Duta Genre Indonesia 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Sep, 2026 | Durasi. 6 Menit

Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit