Member Logo

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026

Est. 9 Menit

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga

Ketika kampung-kampung lain riuh oleh peluit lomba, sorak penonton, balap karung, dan panjat pinang, warga Kedung Luwuk memilih cara yang lebih teduh. Mereka menundukkan kepala dalam doa, memotong tumpeng, lalu duduk berhimpitan di depan layar tanjleb. Tidak ada podium juara, tetapi ada ruang perjumpaan yang membuat seluruh warga merasa menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan.

 

Malam 17 Agustus 2026 di Dusun Kedung Luwuk tidak dibuka dengan suara peluit. Tak ada anak-anak berlari membawa kelereng diatas sendok. Tidak terlihat pula batang pinang berlumur minyak berdiri di tengah lapangan. Di RT 13 RW 06, Desa Pengadegan, Kabupaten Purbalingga, kemerdekaan dirayakan tanpa satu pun perlombaan. Pilihan itu membuat suasana malam menjadi berbeda, lebih tenang, tetapi bukan berarti kehilangan kehangatan.

 

Menjelang malam, warga berdatangan untuk mengikuti tasyakuran. Ada yang membawa anak, ada pula yang datang setelah menyelesaikan pekerjaan rumah dan kegiatan sehari-hari. Mereka duduk berdekatan mengelilingi hidangan yang telah disiapkan sejak sore. Sebuah tumpeng tersaji di tengah pertemuan, dikelilingi nasi dan lauk-pauk hasil kerja bersama para ibu. Aroma masakan berpadu dengan percakapan ringan antar tetangga, menciptakan suasana akrab yang sulit ditemukan ketika setiap orang sibuk dengan urusannya sendiri.

 

Tumpeng dalam acara itu bukan sekadar makanan yang menunggu dibagikan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, bentuknya yang mengerucut ke atas kerap dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Sang Pencipta; sebuah pengingat bahwa rasa syukur selalu memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada perayaan itu sendiri. Sementara itu, lauk-pauk yang mengelilinginya menggambarkan kehidupan yang ditopang oleh alam, kerja keras, dan kebersamaan.

 

Karena itu, tumpeng sering hadir dalam selamatan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan. Di bawah puncaknya, berbagai makanan ditempatkan berdampingan. Setiap lauk memiliki rasa dan rupa yang berlainan, tetapi semuanya tersaji dalam satu wadah. Gambaran sederhana tersebut seolah mengingatkan bahwa kehidupan desa juga tersusun dari banyak peran yang berbeda dan saling melengkapi.

 

Makna tersebut terasa nyata di Kedung Luwuk. Tumpeng itu tidak akan tersaji tanpa para ibu yang memasak, pemuda yang menyiapkan tempat, dan warga yang datang untuk mengamini doa. Perayaan itu lahir bukan dari kerja satu orang, melainkan dari kesediaan banyak tangan melakukan bagian kecilnya masing-masing.

 

Ketika bagian puncaknya dipotong, tak ada medali atau hadiah yang dibagikan. Namun, setiap orang menerima bagian dari makanan yang sama. Tak ada pemisah antara mereka yang menyiapkan acara dan mereka yang datang sebagai tamu; semua duduk dalam lingkar kebersamaan. Begitulah wajah guyub rukun hidup di desa. Kebersamaan tidak dibicarakan panjang lebar, tetapi dikerjakan melalui tangan-tangan yang saling membantu.

 

Ketika doa mulai dilantunkan, percakapan perlahan mereda. Warga menundukkan kepala. Anak-anak yang sebelumnya bergerak ke sana kemari ikut mendekat. Malam kemerdekaan yang biasanya penuh sorak mendadak terasa syahdu. Tak ada yang mengejar kemenangan. Mereka datang untuk bersyukur. Mereka datang untuk mengingat, bersyukur, dan menitipkan harapan agar kehidupan kampung tetap tenteram.

 

Merdeka dari hal-hal buruk

 

Bagi Jamaluddin Malik, salah seorang penggerak pemuda Kedung Luwuk, kemerdekaan bukan semata-mata terbebas dari penjajahan. Delapan puluh satu tahun setelah proklamasi dibacakan, kata “merdeka” perlu diterjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Ke dalam rasa aman, kesehatan keluarga, kelancaran rezeki, dan kemampuan warga menjaga hubungan baik dengan sesama.

 

“Warga Kedung Luwuk merdeka dari hal buruk, merdeka dari hal yang tidak menyenangkan. Mudah-mudahan selalu dilindungi dan dijauhkan dari marabahaya, dijauhkan dari segala macam penyakit, serta dilimpahkan rezeki yang selalu banyu mili dan istiqamah dalam menjalankan perintah,” tuturnya.

 

Dalam bahasa Jawa, banyu mili berarti air yang mengalir. Ungkapan itu menggambarkan harapan agar rezeki terus datang. Tidak harus melimpah sekaligus, tetapi tetap mengalir, mencukupi kebutuhan keluarga, dan membawa ketenteraman. Seperti air yang menemukan jalan di sela tanah dan bebatuan, rezeki diharapkan tidak terputus meski kehidupan kadang menghadirkan kesulitan. Doa tersebut sejalan dengan pandangan hidup Jawa yang tidak selalu mengukur kebahagiaan dari banyaknya kepemilikan. Hidup yang baik juga tercermin dari kemampuan menjaga keseimbangan: rukun dengan sesama, dekat dengan Tuhan, dan tidak merusak alam tempat berpijak.

 

Di Kedung Luwuk, merdeka akhirnya terasa sangat manusiawi. Merdeka adalah ketika warga dapat bekerja dengan tenang, membesarkan anak dalam keadaan sehat, terhindar dari marabahaya, dan tetap memiliki tetangga yang datang ketika dibutuhkan. Kemerdekaan tidak hanya hidup dalam pidato atau upacara, tetapi juga dalam rasa aman ketika pintu rumah ditutup pada malam hari dan keyakinan bahwa seseorang tidak akan menghadapi kesulitan seorang diri.

 

Satu layar untuk seluruh warga

 

Seusai tasyakuran, malam dilanjutkan dengan nonton bersama menggunakan layar tanjleb. Di Purbalingga dan kawasan Banyumas Raya, tontonan semacam ini lebih akrab disebut layar tanjleb. Nama yang sederhana itu menyimpan kenangan tentang masa ketika hiburan tidak dinikmati seorang diri, melainkan ditunggu dan disaksikan bersama-sama di ruang terbuka.

 

Sebuah layar dibentangkan, kemudian anak-anak, pemuda, para ibu, dan orang tua duduk menghadap arah yang sama. Tak seperti kebiasaan hari ini, ketika setiap orang tenggelam dalam telepon genggamnya, layar tanjleb menyatukan perhatian warga pada satu tontonan.

 

Bagi warga berusia lanjut, layar tanjleb mungkin membawa kembali kenangan tentang hiburan keliling pada masa lalu. Bagi anak-anak, ia menawarkan pengalaman yang berbeda. Mereka tidak hanya mengikuti cerita yang diputar, tetapi juga merasakan kegembiraan menjadi bagian dari kerumunan kampung.

 

Kehadiran layar tanjleb juga bukan sesuatu yang asing bagi Purbalingga. Daerah ini memiliki tradisi perfilman yang tumbuh hingga ke desa-desa. Festival Film Purbalingga menjadikan pemutaran layar tanjleb keliling sebagai salah satu program unggulannya. Pada 2024, pemutaran bahkan berlangsung di 35 titik desa dan kelurahan di kawasan Banyumas Raya. Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa film tidak harus selalu berjarak dan berada di dalam gedung. Ia dapat hadir di tengah permukiman serta menjadi milik masyarakat luas.

 

Selain menjadi tontonan rakyat, kegiatan tersebut menghidupkan pertemuan warga dan membuka ruang bagi UMKM desa. Penjual makanan dan minuman dapat ikut merasakan keramaian, sementara warga memperoleh ruang hiburan yang murah dan mudah dijangkau. Maka, layar tanjleb pada malam kemerdekaan di Kedung Luwuk bukan sekadar selingan selepas doa. Ia seperti melanjutkan kebiasaan Purbalingga membawa film keluar dari gedung bioskop dan mendekatkannya kepada masyarakat desa.

 

Tak ada yang menang atau kalah pada malam 17 Agustus ini

 

Setiap daerah memiliki caranya sendiri untuk mencintai Indonesia. Ada yang merayakannya melalui adu ketangkasan, pawai besar, atau pertunjukan yang mengundang ribuan pasang mata. Kedung Luwuk memilih menundukkan kepala dalam doa. Pilihan tersebut tidak lebih meriah atau lebih sederhana, ia hanya tumbuh dari kebutuhan dan watak masyarakatnya sendiri.

 

Di Tangerang, Banten, ribuan warga membuat ogoh-ogoh, replika tank, panser, dan rumah perjuangan. Mereka juga mengarak bendera sepanjang 81 meter dalam pawai sejauh kurang lebih 17 kilometer. Tradisi tersebut tumbuh sebagai panggung kreativitas sekaligus kebanggaan warga. Di sana, kemerdekaan hadir melalui gerak kaki, warna-warni karya, dan semangat orang-orang yang memenuhi jalan.

 

Di Terminal Lebak Bulus, Jakarta, para awak perusahaan otobus mengubah tarik tambang menjadi lomba tarik dan dorong bus. Setiap tim terdiri atas 15 orang yang bersama-sama mengerahkan tenaga untuk menggerakkan kendaraan antarkota. Permainan itu bukan hanya menguji kekuatan, tetapi juga kekompakan. Sebab, kendaraan seberat itu tak mungkin bergerak jika setiap orang menarik dengan irama yang berbeda.

 

Sementara itu, wisatawan mancanegara di Pantai Legian, Bali, berbaur dengan masyarakat dalam lomba makan kerupuk, balap karung, dan tarik tambang. Permainan kampung berpindah ke tepi pantai dan mempertemukan orang-orang dari berbagai negara.

 

Tidak adanya perlombaan bukan berarti perayaan kehilangan kegembiraan. Kegembiraan itu hanya mengambil bentuk yang berbeda. Ia hadir ketika masakan para ibu dinikmati bersama, ketika para pemuda ikut bekerja, dan ketika anak-anak duduk satu baris dengan orang tua di depan layar yang sama. Di tengah zaman yang membuat orang semakin mudah terpisah oleh kesibukan, malam itu justru memberi kesempatan kepada warga untuk saling melihat dan menyapa kembali.

 

Malam semakin larut. Tumpeng telah dibagikan dan gambar terus bergerak di atas layar. Warga masih duduk berdampingan menikmati sisa malam kemerdekaan dalam kehangatan yang sederhana. Tidak ada pengumuman juara yang dinantikan, tetapi setiap orang membawa pulang sesuatu yang mungkin lebih lama tinggal dalam ingatan: perasaan bahwa mereka mempunyai kampung dan orang-orang yang dapat disebut sebagai keluarga besar.

 

Sebab, kemerdekaan yang sesungguhnya barangkali bermula dari hal-hal sederhana: hidup tanpa rasa takut, memiliki tetangga yang saling menjaga, serta dapat pulang ke rumah dengan hati yang tenang. Di Kedung Luwuk, kemerdekaan tidak diperebutkan dalam arena lomba. Ia dirawat melalui doa, makanan yang dibagi rata, dan satu layar yang menyatukan pandangan. Agar kelak, ketika bendera kembali dikibarkan pada Agustus berikutnya, setiap orang benar-benar dapat berkata, kami telah hidup sebagai manusia yang merdeka.*

Kontributor : Nofita Nur Safitri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNU Jogja, Angkatan 2022. Aktif menulis sejak 2017 dimulai dengan menjadi Wartawan Indonesia Scout Journalist 7+ years, penulis 3 buku sastra, ikut lomba menulis puisi 20x tingkat nasional, menjadi kontributor penulis di media Pramuka Kabupaten Purbalingga. Sekarang sedang eksekusi program aksi sosial GerakDampak Academy dari Indika Foundation.

Editor : Latifah

*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya kontributor. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi. 

Bagikan

Berita Terkait

Merapatkan Barisan untuk Kemaslahatan Jama’ah dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama

Merapatkan Barisan untuk Kemaslahatan Jama’ah dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 11 Sep, 2026 | Durasi. 5 Menit

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 28 Aug, 2026 | Durasi. 5 Menit

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit

Berita Populer

Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit

Mutiara Azzahra Tzabitah Zain Ababil, Mahasiswi Tuli Prodi Teknologi Hasil Pertanian UNU Jogja Raih Juara Harapan I Turnamen Futsal Tuli Antar Klub 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit