Member Logo

NU dan Pendidikan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 21 Aug, 2026

Est. 10 Menit

NU dan Pendidikan

Oleh : Dr. Abdul Ghoffar, M.B.A

[OPINI] Kalau kita mencermati perbincangan akhir-akhir ini, terutama menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang mendatang, perhatian publik dan warga NU tampaknya lebih banyak tersedot pada satu hal: siapa yang akan memimpin NU ke depan. Pembicaraan tentang kepemimpinan, bahkan sering kali lebih condong pada politik kepemimpinan, menjadi tema yang begitu dominan sehingga kesannya isu-isu strategis lain agak tersisihkan.

Padahal, NU bukan hanya soal siapa yang menjadi Rais Aam atau Ketua Umum. NU adalah organisasi besar dengan mandat sosial, keagamaan, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, kebudayaan, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai bidang kehidupan lainnya. Karena itu, muktamar semestinya tidak hanya menjadi arena untuk membicarakan pergantian atau keberlanjutan kepemimpinan, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat kembali: apa yang hendak kita kerjakan dengan NU yang demikian besar ini?

Kita patut bersyukur bahwa RUU Sistem Pendidikan Nasional menjadi salah satu agenda kajian dalam muktamar nanti. Setidaknya, hal ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa NU perlu ikut mengambil bagian dalam mendesain dan menyiapkan sistem pendidikan nasional agar menjadi lebih baik. NU bukan sekadar objek dari kebijakan pendidikan nasional, tetapi memiliki pengalaman, sumber daya, dan jaringan yang sangat besar untuk ikut menentukan arah pendidikan Indonesia.

Dalam tulisan kecil ini, saya hanya ingin menyoroti satu hal yang menurut saya sangat strategis bagi NU, yaitu pendidikan.

Pertanyaannya sederhana: apakah selama ini kita sudah sungguh-sungguh menggarap potensi pendidikan NU dengan baik? Ataukah justru kita masih melihatnya sebagai sesuatu yang berjalan sendiri-sendiri, sehingga potensi yang demikian besar belum berkembang sebagaimana mestinya?

Kalau boleh saya kelompokkan, potensi pendidikan NU setidaknya dapat dilihat dalam empat kelompok besar. Pertama, sekolah-sekolah. Kedua, pesantren-pesantren. Ketiga, perguruan tinggi. Dan keempat, diaspora NU, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.

Sekolah: Potensi yang Sangat Besar

Kelompok pertama adalah sekolah, mulai dari SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA. Pendidikan prasekolah tidak saya masukkan di sini karena sebagian besar berada dalam pengelolaan Muslimat NU.

Sekolah-sekolah tersebut dapat dibagi lagi menjadi dua kategori besar: sekolah yang berada di bawah Lembaga Pendidikan Ma'arif NU dan sekolah non-Ma'arif.

Di bawah LP Ma'arif NU terdapat sekitar 12.780 sekolah, yang terdiri dari sekitar 7.092 SD/MI, 3.929 SMP/MTs, dan 1.759 SMA/SMK/MA. Angka ini saja sudah menunjukkan betapa besar sebenarnya ekosistem pendidikan NU.

Di luar sekolah-sekolah Ma'arif, masih terdapat ribuan sekolah yang dikelola oleh pesantren-pesantren yang berafiliasi dengan NU, yayasan-yayasan yang didirikan oleh kader NU, maupun lembaga pendidikan yang tumbuh di tengah komunitas masyarakat NU. Belum lagi sekolah-sekolah negeri yang secara historis pernah didirikan atau dirintis oleh warga NU, atau berada di lingkungan masyarakat yang secara kultural merupakan basis NU.

Artinya, kalau seluruh ekosistem tersebut dapat dipetakan dengan baik, kita bukan hanya memiliki ribuan sekolah, tetapi juga ribuan pengelola, puluhan bahkan ratusan ribu guru, dan jutaan peserta didik.

Pertanyaannya kemudian: apakah semua potensi tersebut sudah terkoneksi?

Apakah kita sudah memiliki peta yang cukup baik tentang sekolah-sekolah tersebut? Bagaimana kualitas gurunya? Bagaimana kualitas kepala sekolahnya? Bagaimana mutu pembelajarannya? Apa yang menjadi kekuatan dan kelemahannya? Dan yang paling penting, apakah ada desain besar pendidikan NU yang membuat sekolah-sekolah tersebut bergerak menuju arah yang sama?

Saya kira di sinilah pekerjaan rumah kita.

Pesantren: Jantung Pendidikan NU

Kelompok kedua adalah pesantren. Ini tentu merupakan salah satu kekuatan paling khas NU.

Pesantren-pesantren yang tergabung dalam Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) NU diperkirakan berjumlah lebih dari 26.000 pesantren, baik pesantren besar maupun kecil, dengan jumlah santri yang diperkirakan mencapai sekitar 7 juta santri.

Saya sengaja menggunakan kata "diperkirakan", karena kita memang belum memiliki angka yang benar-benar presisi. Dan menurut saya, hal ini justru merupakan salah satu tantangan kita di era digital.

Kalau jumlah santri masih berupa perkiraan, mungkin masih bisa dimaklumi. Tetapi kalau jumlah lembaga atau pesantrennya sendiri masih kita perkirakan, rasanya ada sesuatu yang perlu segera kita benahi. Di zaman ketika data menjadi salah satu instrumen penting dalam mengambil keputusan, semestinya NU memiliki database pesantren yang akurat, hidup, dan terus diperbarui.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren telah menjadi pusat pembentukan karakter, pusat kebudayaan, pusat pemberdayaan masyarakat, sekaligus benteng pertahanan tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.

Umumnya pesantren menyelenggarakan pendidikan pada jenjang dasar dan menengah. Namun semakin banyak pesantren yang mengembangkan pendidikan tinggi, baik dalam bentuk Ma'had Aly maupun perguruan tinggi lainnya yang kemudian masuk dalam ekosistem LPTNU.

Dengan jumlah sebesar itu, pesantren sesungguhnya merupakan laboratorium pendidikan NU yang luar biasa besar.

Sayangnya, kekuatan tersebut belum sepenuhnya terkonsolidasi. Masing-masing pesantren memiliki keunggulan dan tradisinya sendiri, tetapi belum semuanya terhubung dalam sebuah ekosistem pengetahuan, teknologi, riset, dan pengembangan sumber daya manusia NU.

Padahal, kalau 26.000-an pesantren itu dapat saling belajar, berbagi praktik baik, memanfaatkan teknologi bersama, mengembangkan kurikulum yang relevan, dan membangun jejaring ekonomi serta riset, dampaknya akan luar biasa besar.

Perguruan Tinggi: Saatnya Naik Kelas

Kelompok ketiga adalah perguruan tinggi.

Saat ini terdapat sekitar 280 perguruan tinggi yang berafiliasi dengan NU—angka pastinya tentu perlu dikoreksi dan diperbarui oleh LPTNU. Dari jumlah tersebut, sekitar 43 perguruan tinggi berbadan hukum Perkumpulan NU, dengan jumlah mahasiswa sekitar 234.000 orang. Selebihnya berbentuk yayasan, baik yang berada di lingkungan pesantren maupun di luar pesantren.

Di dalam ekosistem ini terdapat ribuan dosen, mulai dari mereka yang bergelar magister dan doktor hingga yang telah mencapai jabatan akademik tertinggi sebagai guru besar atau profesor.

Ini adalah modal intelektual yang sangat besar.

Tetapi sekali lagi, pertanyaannya bukan semata-mata berapa jumlah perguruan tingginya. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang bisa dilakukan bersama?

Apakah perguruan tinggi NU sudah menjadi jaringan akademik yang saling terhubung? Apakah riset-riset yang dilakukan sudah diarahkan untuk menjawab persoalan masyarakat? Apakah profesor, doktor, dan para peneliti NU sudah terkonsolidasi dalam sebuah ekosistem keilmuan? Apakah kita memiliki agenda riset bersama yang strategis?

Jangan sampai kita memiliki banyak perguruan tinggi, banyak doktor, banyak profesor, dan banyak mahasiswa, tetapi semuanya berjalan sendiri-sendiri.

NU membutuhkan knowledge ecosystem, bukan sekadar kumpulan institusi pendidikan tinggi.

Kita membutuhkan pusat-pusat unggulan riset, jaringan profesor dan doktor, kolaborasi antar perguruan tinggi, pertukaran mahasiswa dan dosen, serta kerja sama internasional yang lebih sistematis. Kalau ini dilakukan, perguruan tinggi NU bukan hanya akan menjadi tempat menghasilkan ijazah, tetapi menjadi salah satu mesin utama kemajuan NU dan bangsa.

Diaspora: Potensi yang Belum Banyak Disapa

Kelompok keempat adalah diaspora NU.

Diaspora memang bukan institusi pendidikan. Tetapi kategori ini penting untuk membantu kita mengidentifikasi di mana para kader NU berada dan bagaimana mereka dapat disapa, dibina, dan diberdayakan.

Diaspora dapat dibedakan menjadi dua: diaspora di dalam negeri dan diaspora di luar negeri.

Diaspora dalam negeri antara lain berada di berbagai kampus negeri maupun swasta. Jumlahnya mungkin ribuan. Mereka tersebar dalam berbagai bidang keilmuan dan profesi: pendidikan, teknologi, ekonomi, kedokteran, hukum, sosial, politik, pertanian, sains, dan berbagai disiplin lainnya.

Sayangnya, kita belum memiliki data yang baik tentang mereka.

Padahal, kalau kita mempunyai database yang cukup lengkap, kita akan mengetahui siapa mereka, di mana mereka berada, bidang keahliannya apa, dan bagaimana mereka dapat berkontribusi untuk NU.

Di luar negeri, potensinya bahkan lebih menarik lagi. Ada kader-kader NU yang sedang menempuh studi magister dan doktoral, ada yang menjadi dosen, peneliti, profesional, maupun bekerja di berbagai lembaga internasional.

Mereka tersebar di berbagai negara dan berbagai pusat keilmuan dunia.

Di sinilah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCI NU) di luar negeri semestinya dapat memainkan peran yang lebih strategis. PCI NU tidak cukup hanya menjadi ruang silaturahmi warga NU di luar negeri, tetapi juga dapat menjadi jembatan intelektual dan jaringan global NU.

Kita perlu tahu siapa saja mereka, keahlian mereka apa, dan apa yang bisa mereka kontribusikan.

Bayangkan jika seluruh doktor dan profesor NU di berbagai belahan dunia terhubung dalam satu jaringan. Bayangkan jika para peneliti NU dapat mengembangkan riset bersama dengan kampus-kampus NU di Indonesia. Bayangkan jika para diaspora tersebut menjadi pintu masuk bagi kerja sama internasional NU. Potensinya luar biasa.

Dari Kuantitas Menuju Kualitas

Dari gambaran tersebut terlihat jelas bahwa NU sesungguhnya memiliki modal pendidikan yang sangat besar. Sekolah ada ribuan. Pesantren puluhan ribu. Perguruan tinggi ratusan. Guru, dosen, profesor, peneliti, santri, dan mahasiswa jumlahnya mencapai jutaan.

Tetapi persoalannya bukan lagi semata-mata berapa banyak yang kita punya.

Pertanyaan besarnya adalah: seberapa besar potensi itu kita kelola secara strategis?

Saya kira selama ini potensi pendidikan NU masih banyak yang berjalan sendiri-sendiri. Ada sekolah yang maju luar biasa, tetapi tidak banyak diketahui oleh sekolah NU lainnya. Ada pesantren yang memiliki inovasi pendidikan sangat bagus, tetapi tidak terdokumentasikan dan tidak direplikasi. Ada perguruan tinggi yang memiliki profesor dan pusat riset yang hebat, tetapi belum terhubung dengan kebutuhan pesantren dan masyarakat NU. Ada diaspora yang memiliki keahlian luar biasa, tetapi bahkan tidak dikenal oleh struktur NU.

Inilah pekerjaan rumah kita.

Mungkin sudah waktunya NU tidak hanya berbicara tentang jumlah lembaga, tetapi mulai berbicara tentang kualitas ekosistem.

Kita membutuhkan satu peta besar pendidikan NU. Sebuah database yang akurat dan terintegrasi. Kita perlu tahu siapa yang kita punya, apa kekuatannya, di mana kelemahannya, dan ke mana arah pengembangannya.

Lebih dari itu, kita membutuhkan semacam grand design pendidikan NU yang menghubungkan sekolah, pesantren, perguruan tinggi, dan diaspora dalam satu ekosistem besar.

Bukan untuk menyeragamkan semuanya. NU justru harus tetap menjaga keragaman dan kekhasan masing-masing lembaga. Tetapi keberagaman itu perlu disatukan oleh visi dan agenda bersama.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar salah satu program NU. Pendidikan adalah salah satu fondasi utama masa depan NU.

Kalau kita ingin NU maju, maka pendidikan harus menjadi prioritas. Kalau kita ingin bangsa ini maju, maka NU harus ikut berkontribusi dalam membangun pendidikan nasional yang berkualitas. Dan kalau kita ingin generasi NU dua puluh atau lima puluh tahun yang akan datang tetap menjadi kekuatan penting bangsa ini, maka investasi terbesar yang harus kita lakukan hari ini adalah investasi pada manusia.

Karena itu, menjelang Muktamar NU ke-35 di Jombang, menurut saya kita perlu memperluas perbincangan. Jangan hanya bertanya siapa yang akan memimpin NU, tetapi juga bertanya NU akan dibawa ke mana.

Siapa pun nanti yang memimpin, tantangannya tetap sama: bagaimana mengubah potensi besar NU menjadi kekuatan nyata. Dan salah satu kekuatan terbesar itu ada di depan mata kita: pendidikan.

Tinggal apakah kita mau menggarapnya dengan sungguh-sungguh atau membiarkannya tumbuh sendiri-sendiri. Kalau pendidikan NU mampu kita konsolidasikan, saya kira kita bukan hanya sedang membangun sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi. Kita sedang menyiapkan masa depan NU dan masa depan Indonesia.*

Penulis : Dr. Abdul Ghoffar, M.B.A., saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Pendidikan Kepesantrenan dan Transformasi Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Selain aktif sebagai akademisi, ia juga dikenal sebagai aktivis sosial dan ulama serta aktif dalam kepengurusan PWNU DIY sebagai A’wan Syuriah PWNU DIY periode 2022–2027. 

Editor : Latifah

*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya penulis. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi.

Bagikan

Berita Terkait

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 28 Aug, 2026 | Durasi. 5 Menit

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 9 Menit

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit

Berita Populer

Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit

Mutiara Azzahra Tzabitah Zain Ababil, Mahasiswi Tuli Prodi Teknologi Hasil Pertanian UNU Jogja Raih Juara Harapan I Turnamen Futsal Tuli Antar Klub 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa PGSD UNU Jogja Raih Juara II Lomba Cipta Lagu Anak Tingkat Nasional

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit