Member Logo

Puasa dan Kesehatan Mental: Dosen UNU Jogja Jelaskan Peran Ramadan dalam Stabilitas Emosi Mahasiswa

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 4 Mar, 2026

Est. 5 Menit

Puasa dan Kesehatan Mental: Dosen UNU Jogja Jelaskan Peran Ramadan dalam Stabilitas Emosi Mahasiswa

Puasa di bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai aktivitas ibadah dengan menahan lapar dan haus, tetapi juga memiliki manfaat bagi kesehatan mental. Dalam perspektif psikologi Islam, puasa menjadi sarana pengendalian diri dari hawa nafsu.

Selain itu, puasa memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seseorang, khususnya dalam konteks isu kesehatan mental yang terjadi pada generasi muda. Tekanan akademik, tuntutan sosial, ketidakpastian masa depan, hingga pengaruh media digital yang masif kerap memengaruhi stabilitas emosi dan keseimbangan batin.

Dosen Jurusan Studi Islam Interdisipliner Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja), Nuzulia Febri Hidayati, menyebut bahwa puasa sebagaimana termaktub dalam Q.S. Al-Baqarah: 183 menekankan kewajiban berpuasa dengan tujuan la‘allakum tattaqun, agar kamu bertakwa.

“Takwa dalam khazanah keislaman bukan sekadar kepatuhan ritual, tetapi kesadaran spiritual yang melahirkan kontrol diri, kejernihan moral, dan keseimbangan batin. Dari sinilah puasa dapat dibaca sebagai proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa),” katanya.

Istilah tazkiyatun nafs dalam proses ibadah puasa memiliki peran penting dalam pengelolaan emosi, penataan ulang pola pikir, serta pembentukan kebiasaan mental yang lebih sehat.

Puasa dan Transformasi Jiwa

Dalam tradisi intelektual Islam, klasifikasi jiwa dibagi menjadi beberapa tingkatan: pertama, nafs ammarah (jiwa yang cenderung pada dorongan impulsif); kedua, nafs lawwamah (jiwa yang reflektif dan menyesali kesalahan); dan ketiga, nafs muthmainnah (jiwa yang tenang). Transformasi jiwa menuju muthmainnah memerlukan proses spiritual yang tidak instan, melainkan melalui latihan batin yang konsisten.

Nuzulia menambahkan bahwa puasa berperan sebagai riyadhah an-nafs, yakni latihan jiwa untuk menundukkan dominasi hawa nafsu. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang mampu menahan lapar, dahaga, serta dorongan emosional sepanjang hari, ia sedang melatih kemampuan regulasi diri.

“Dalam bahasa psikologi modern, ini berkaitan dengan self-regulation dan emotional control. Dalam bahasa Islam, ini adalah latihan ṣabr (kesabaran) dan mujahadah (kesungguhan spiritual),” jelasnya.

Sejalan dengan itu, ulama besar seperti Abu Hamid al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya’ Ulum al-Din menjelaskan pentingnya pengendalian syahwat sebagai jalan menuju kejernihan hati (qalb). Hati yang jernih memancarkan ketenangan, sedangkan hati yang dikuasai hawa nafsu rentan terhadap kegelisahan.

Dengan demikian, puasa tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas mental melalui pembersihan dimensi batin.

Hubungan Puasa sebagai Aktivitas Spiritualitas dalam Stabilitas Emosi

Korelasi antara spiritualitas dan ketenangan batin telah lama menjadi perhatian dalam kajian Islam. Al-Qur’an menyatakan, “Ala bi dzikrillahi tathma’innul qulub” (QS. Ar-Ra’d: 28), bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Ayat ini menunjukkan bahwa stabilitas emosi dalam Islam berakar pada kesadaran ilahiah.

Dalam konteks bulan Ramadan, ketika intensitas ibadah meningkat seperti salat malam, tilawah, doa, dan sedekah, hal tersebut diyakini dapat memperkuat sense of meaning atau makna hidup.

“Seseorang yang memaknai hidup sebagai bagian dari rencana Allah SWT cenderung memiliki perspektif yang lebih luas terhadap masalah. Ujian tidak lagi dipahami semata sebagai beban, tetapi sebagai ibtila’, proses pemurnian dan peningkatan derajat spiritual,” tutur Nuzulia.

Ramadan sebagai Madrasah Resiliensi Mahasiswa

Nuzulia menjabarkan bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang rentan terhadap tekanan psikologis. Target akademik, kompetisi, dan tuntutan sosial kerap memicu stres. Dalam kondisi ini, Ramadan dapat dimanfaatkan sebagai madrasah ruhaniyyah atau sekolah spiritual untuk membangun resiliensi mental.

Pertama, Ramadan melatih nilai sabar melalui ibadah puasa yang membentuk daya tahan terhadap frustrasi. Kedua, praktik muhasabah (refleksi diri) yang lazim dilakukan di bulan Ramadan membantu mahasiswa mengevaluasi orientasi hidupnya. Ketiga, penguatan ukhuwah melalui kegiatan sosial dan keagamaan memperluas dukungan sosial yang sangat penting dalam menjaga kesehatan mental.

Dalam perspektif Islam, resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan kemampuan untuk bertumbuh melalui ujian. Konsep ini sejalan dengan prinsip tawakal, yakni bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar secara maksimal. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya momentum ritual, tetapi juga proses pembentukan karakter tangguh yang berlandaskan spiritualitas.

Puasa sebagai Terapi Spiritual

Dalam tradisi tasawuf, puasa dipandang sebagai sarana penyembuhan batin. Ia melemahkan dominasi materialitas dan menguatkan kesadaran transendental. Puasa menciptakan ruang hening di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, memberi kesempatan bagi jiwa untuk kembali kepada fitrahnya.

“Namun penting ditegaskan, dalam kerangka akademik, puasa sebagai terapi spiritual bersifat komplementer. Ia dapat memperkuat ketenangan batin dan keseimbangan emosi, tetapi tidak menggantikan intervensi medis pada gangguan mental klinis. Islam sendiri mengajarkan prinsip keseimbangan (tawazun) antara ikhtiar spiritual dan ikhtiar rasional,” jelas Nuzulia.

Perspektif Interdisipliner tentang Ibadah dan Psikologi

Studi Islam kontemporer bergerak menuju pendekatan integratif dengan menggabungkan teks normatif (Al-Qur’an dan hadis), turats (warisan intelektual klasik), serta ilmu modern.

Dalam perspektif ini, ibadah dipahami sebagai praktik multidimensi yang mencakup aspek teologis (penghambaan), psikologis (regulasi emosi dan makna hidup), serta sosial (solidaritas dan kohesi umat).

Pendekatan interdisipliner membuka ruang dialog antara Studi Islam dan psikologi modern. Puasa tidak hanya dipandang sebagai kewajiban ritual, tetapi juga sebagai mekanisme pembentukan manusia yang utuh (insan kamil), matang secara spiritual, intelektual, dan emosional.

Di sinilah relevansi kajian Studi Islam menjadi signifikan. Ia tidak berhenti pada pemahaman normatif, tetapi juga berkontribusi dalam menjawab problematika kemanusiaan aktual, termasuk isu kesehatan mental.

Lebih lanjut, Nuzulia menekankan bahwa Ramadan mengajarkan bahwa kesehatan mental bukan sekadar kondisi tanpa gangguan, melainkan kemampuan batin untuk selaras dengan nilai-nilai ilahi.

“Puasa sebagai tazkiyatun nafs menghadirkan dimensi penyucian, pengendalian diri, dan pemaknaan hidup yang mendalam,” pungkasnya.

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tekanan, praktik spiritual seperti puasa dapat menjadi ruang jeda yang menenangkan sekaligus membangun daya tahan batin. Studi Islam dengan pendekatan interdisiplinernya menawarkan kerangka konseptual yang komprehensif untuk memahami hubungan antara ibadah dan psikologi secara holistik.

Ramadan pada akhirnya bukan hanya ritual tahunan, tetapi proses pembentukan manusia yang lebih sadar, lebih sabar, dan lebih stabil secara emosional. [Latifah]

Bagikan

Berita Terkait

Puasa Aman, Obat Tetap Jalan: Dosen Farmasi UNU Jogja Ingatkan Pentingnya Atur Jadwal Minum Obat Saat Ramadan

Puasa Aman, Obat Tetap Jalan: Dosen Farmasi UNU Jogja Ingatkan Pentingnya Atur Jadwal Minum Obat Saat Ramadan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 27 Feb, 2026 | Durasi. 3 Menit

Ramadan Melawan Budaya Scrolling Media Sosial, Saatnya Mahasiswa Bangkit Jadi Kreator Muslim Bernilai Ibadah

Ramadan Melawan Budaya Scrolling Media Sosial, Saatnya Mahasiswa Bangkit Jadi Kreator Muslim Bernilai Ibadah

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 23 Feb, 2026 | Durasi. 3 Menit

Tambah Deretan Doktor UNU Jogja, Dosen Agribisnis Teliti Ekoefisiensi Peternakan Sapi Perah di Sleman

Tambah Deretan Doktor UNU Jogja, Dosen Agribisnis Teliti Ekoefisiensi Peternakan Sapi Perah di Sleman

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 18 Feb, 2026 | Durasi. 3 Menit

Berita Populer

UNU Jogja Peringati Harlah ke-9, Tandai Fase Konsolidasi untuk Perkokoh Laju Akselerasi

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 12 Mar, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa Jurusan PGSD UNU Jogja Raih Juara 3 Kompetisi Dai di Tingkat DIY

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 9 Mar, 2026 | Durasi. 2 Menit

Civitas UNU Jogja Borong Prestasi dalam ANUGERAH LPTNU 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 10 Mar, 2026 | Durasi. 3 Menit

Jelajahi Masa Depan Industri Olahraga di GSIC Summit APAC 2026!

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 5 Mar, 2026 | Durasi. 2 Menit