Member Logo

Bagaimana Seharusnya Penyandang Disabilitas Diperlakukan Secara Setara di Kampus

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Sep, 2026

Est. 6 Menit

Bagaimana Seharusnya Penyandang Disabilitas Diperlakukan Secara Setara di Kampus

Oleh: Nur Eko Saputro

[OPINI] Pendidikan inklusif adalah tentang memberikan kesempatan yang sama bagi semua mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan berpartisipasi secara penuh dalam kehidupan kampus. Inklusif bukan sekadar jargon, tetapi komitmen nyata untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal hanya karena keterbatasan fisik atau sensorik. Dengan menciptakan lingkungan yang inklusif, kita dapat membantu semua mahasiswa mencapai potensi terbaik mereka tanpa harus merasa dibedakan atau dikasihani.

Sebagai mahasiswa tunanetra di UNU Yogyakarta, saya merasakan langsung apa hambatan yang dihadapi di lapangan. Keterbatasan terbesar bagi kami adalah hambatan visual. Di banyak sudut kampus kampus terdapat ruang kelas berdinding kaca tanpa penanda nomor yang dapat dikenali dengan cara diraba. Kelengkapan tanpa pegangan yang lengkap, dan guiding block sebagai penunjuk arah yang masih terbatas. Dalam banyak hal, situasi kecil seperti itu sangat menghambat mobilitas dan orientasi mahasiswa disabilitas netra di banyak kampus di Indonesia. Kami tidak butuh dikasihani, kami butuh akses. Mahasiswa disabilitas netra memang memerlukan bantuan yang tepat dalam navigasi, akses informasi yang ramah pembaca layar, dan interaksi sosial yang setara.

Selain itu, agar kepercayaan diri mahasiswa disabilitas tumbuh, langkah paling sederhana adalah melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan atau acara kampus. Mahasiswa disabilitas harus menjadi subyek, bukan objek, penonton atau bahkan peserta, sekedar untuk kepentingan formalitas. Mahasiswa disabilitas dapat dilibatkan secara aktif sebagai panitia, moderator, pemateri, atau penanggung jawab kegiatan. Hadirnya kesempatan untuk dilibatkan secara aktif, pola pikir mahasiswa difabel akan berkembang, wawasan bertambah, dan rasa memiliki terhadap kampus juga meningkat. Inklusivitas memang perlu dibangun di semua lini kegiatan kampus, mulai dari orientasi mahasiswa, seminar, lomba, hingga organisasi kemahasiswaan, agar mahasiswa difabel merasa setara, dihargai, dan percaya diri.

Dalam proses pembelajaran di kelas, prinsip kesetaraan harus dijaga. Jika secara kognitif tidak ada hambatan, mahasiswa disabilitas sebaiknya mengikuti pembelajaran yang sama dengan mahasiswa non-disabilitas. Kurikulumnya sama, standar nilainya sama, tugasnya sama. Yang perlu disesuaikan adalah medianya agar bisa mengakses materi dengan baik. Misalnya, materi dalam bentuk file PDF yang dapat dibaca oleh pembaca layar di komputer atau sering disebut (screen reader). Bagi mahasiswa difabel netra, penjelasan secara verbal dari dosen saat menampilkan slide atau diagram sangat diperlukan. Termasuk pemberian waktu tambahan saat ujian juga sangat jika diperlukan. Pengecualian atau keringanan baru diberikan jika sistem pembelajaran memang sama sekali tidak bisa diakses, meskipun sudah ada upaya maksimal untuk membantu. Seluruh pengecualian itupun tidak dapat diseragamkan pada semua penyandang disabilitas, dan harus didekati secara individual, kasus per kasus.

Dalam pembelajaran sering dilaksanakan penugasan kelompok. Dalam kasus ini implementasi pendidikan inklusif perlu dikembangkan dalam ragam sisi. Misalnya dalam soal pembagian dan distribusi kelompok. Selama ini masih sering terjadi praktik di mana mahasiswa disabilitas dikumpulkan dalam satu kelompok yang isinya sesama disabilitas. Alasannya tentu pengelolaan administrasi dan penilaian agar lebih mudah. Cara demikian justru menciptakan hambatan baru di dalam kelas inklusif, yakni soal segregasi. Mahasiswa disabilitas, direkomendasikan dicampur dengan teman non-disabilitas. Jika dalam satu kelas ada dua mahasiswa disabilitas, maka keduanya lebih baik dipisahkan dalam kelompok yang berbeda. Dengan begitu akan terjadi peristiwa belajar yang dinamis melalui interaksi, saling belajar, dan transfer pengetahuan. Teman non-disabilitas belajar cara berkomunikasi yang empatik dan inklusif, sementara mahasiswa disabilitas belajar beradaptasi dengan dinamika kerja tim.

Dalam interaksi sosial sehari-hari, masih banyak tantangan yang dirasakan oleh mahasiswa disabilitas. Teman non-disabilitas kadang tidak mau menyapa duluan karena bingung atau canggung. Padahal mahasiswa disabilitas bukan sombong. Mahasiswa difabel netra atau low vision memang memiliki hambatan mengenali siapa orang yang ada di sekitar tempat mereka duduk atau beraktifitas. Mahasiswa difabel netra butuh disapa terlebih dahulu dan dideskripsikan tentang ”siapa yang ada di dekat kami”. Masalah interaksi yang lain yang sering dialami, saat meminta bantuan untuk menunjukkan ruang kelas atau sekedar membacakan pengumuman, banyak teman sebaya yang abai dengan alasan sibuk. Jika memang berhalangan untuk membantu, carikan alternatif teman lain yang bisa membantu. Penolakan permintaan bantuan dari mahasiswa difabel ini seringkali terasa menyakitkan. Mahasiswa difabel akan berfikir bukankah dalam satu kelas yang berisi puluhan mahasiswa? Apakah semua orang sibuk dalam waktu yang bersamaan? Kepekaan sosial seperti ini sangat penting untuk membangun rasa aman.

Model pendampingan juga perlu diperbaiki agar lebih adil dan memberikan benefit bertambahnya pengetahuan dan skill bagi pendamping maupun difabel. Sebaiknya sistem pendampingan dilakukan bergantian setiap hari, dibuat jadwal piket. Keterbatasan staf atau relawan yang berjumlah minimal misalnya satu orang, dan jika yang bersangkutan mendampingi dari awal semester sampai akhir, dapat dinilai hanya merawat ketergantungan. Sistem yang lebih inklusif dapat dilaksanakan dengan membuat pola shift alias saling bergantian. Semua teman sekelas akan memiliki skill dan pengalaman empatik saat mendampingi, berinteraksi dan dan memahami kebutuhan mahasiswa disabilitas. Dukungan sosial dari teman sebaya ini sangat penting agar mahasiswa difabel merasa diterima, nyaman, dan menjadi bagian dari komunitas kelas.

Karena itu, sebagai mahasiswa difabel netra di UNU Yogyakarta, penulis merekomendasikan beberapa hal yang harus terus diusahakan agar tercipta lingkungan yang inklusif, adil dan setara. Pertama, pembentukan gugus Pendamping Inklusif dari setiap jurusan atau fakultas yang bertugas membantu mahasiswa disabilitas dan menjelaskan kebutuhannya kepada teman sekelas dan dosen. Kedua, pelatihan mahasiswa sebaya tentang pendampingan dan interaksi dengan mahasiswa difabel (termasuk tunanetra) yang benar dan etis bagi mahasiswa dan dosen. Ketiga, pelatihan Universal Learning Design, tentang metode pembelajaran yang sesuai dan materi yang aksesibel bagi mahasiswa difabel. Keempat, pembuatan film pendek dan konten edukasi, utamanya edukasi untuk seluruh civitas akademika tentang kehidupan sehari-hari mahasiswa disabilitas, dan kampanye tentang inklusivitas. Kampanye media dan sosialisasi konten edukasi ini terutama dapat dilakukan saat pelaksanaan orientasi mahasiswa baru.

Ikhtiar di atas ditujukan untuk membangun lingkungan kampus yang ramah bagi semua, meningkatkan kesadaran tentang disabilitas, dan memberdayakan mahasiswa disabilitas agar bisa berpartisipasi aktif tanpa batas. Pelibatan mahasiswa disabilitas dalam setiap pengambilan keputusan yang terkait dengan kebijakan inklusi, melakukan evaluasi berkala terhadap fasilitas dan sistem pembelajaran, serta memperkuat kerjasama semua pihak antara mahasiswa, dosen, staf, dan seluruh civitas akademika. Perubahan menuju kampus inklusif memang butuh waktu dan upaya bersama yang konsisten.

Penulis ingin mencantumkan kutipan dari catatan harian penulis tentang layanan pendidikan yang inklusif ”...kesetaraan yang kami butuhkan bukanlah belas kasihan atau perlakuan istimewa yang berlebihan. Yang kami butuhkan adalah ruang pembuktian bahwa dengan akses yang setara, kami juga mampu berprestasi, berkontribusi, dan membawa nama baik kampus.” Semoga.*

Penulis: Nur Eko Saputro, mahasiswa Program Studi Informatika UNU Yogyakarta, penyandang disabilitas netra dan peraih Medali Emas Lomba Karya Tulis Nasional Gama Cendekia UGM 2025. 

Editor : Latifah

*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya penulis. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi. 

Bagikan

Berita Terkait

Mewakili DIY, Agung Putra Darmara, Mahasiswa Prodi Manajemen UNU Jogja Raih Juara Harapan 2 Duta Genre Indonesia 2026

Mewakili DIY, Agung Putra Darmara, Mahasiswa Prodi Manajemen UNU Jogja Raih Juara Harapan 2 Duta Genre Indonesia 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Sep, 2026 | Durasi. 6 Menit

Dosen dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNU Jogja Borong 4 Penghargaan di Ajang Konferensi Internasional

Dosen dan Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan UNU Jogja Borong 4 Penghargaan di Ajang Konferensi Internasional

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 16 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026

Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Berita Populer

Mewakili DIY, Agung Putra Darmara, Mahasiswa Prodi Manajemen UNU Jogja Raih Juara Harapan 2 Duta Genre Indonesia 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Sep, 2026 | Durasi. 6 Menit

Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit