Mewujudkan Pesantren Amanah dan Bebas Kekerasan, UNU Jogja Fasilitasi Penyusunan Panduan Perlindungan Anak di Pesantren
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Jun, 2026
Est. 4 Menit
-1782359131915.jpg?alt=media&token=8acc0621-6479-4f71-b47d-1d4ecbc058e1)
Yogyakarta, Indonesia - Sebagai perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, UNU Jogja menaruh perhatian besar terhadap transformasi di pesantren, termasuk dalam isu perlindungan anak. Untuk itu, UNU Jogja memfasilitasi penyelenggaraan “Workshop Penyusunan Panduan Perlindungan Anak (Child Safeguarding) di Lingkungan Pondok Pesantren”, yang digelar di Kampus UNU Jogja, Selasa (23/6/2026).
Agenda ini merupakan hasil kerja sama UNU Jogja; Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) DIY; Satuan Tugas Pesantren Ramah Anak dan Perempuan PWNU DIY; dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PWNU DIY.
Wujud Transformasi Lembaga Pendidikan
Wakil Rektor Bidang Kepesantrenan UNU Jogja Dr. Abdul Ghoffar menyatakan penyusunan panduan perlindungan anak ini selaras dengan komitmen seluruh lembaga pendidikan, termasuk UNU Jogja, untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman.
Lebih dari itu, agenda ini juga merupakan wujud transformasi pesantren dan lembaga pendidikan yang harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengelolaan hingga citra lembaga di mata publik, khususnya generasi muda.
“Mindset untuk bertransformasi menjadi tantangan besar bagi pesantren ke depan. Pondok pesantren harus melakukan perubahan-perubahan ini untuk mendeteksi hal-hal yang masih kurang atau menyimpang,” tuturnya.
Dr. Abdul Ghoffar berharap workshop ini menghasilkan panduan komprehensif bagi perlindungan anak di lingkungan pesantren. Hasil lokakarya ini pun seyogianya dapat disebarlukaskan ke publik, sehingga masyarakat dapat melihat komitmen pesantren untuk melakukan tranformasi dalam pencegahan kekerasan.
“Selama ini, kita kurang menonjolkan keunggulan pesantren, sehingga pesantren sering dianggap tertinggal. Untuk itu, hasil SOP ini bisa diviralkan untuk menunjukkan bahwa pesantren telah bergerak maju dalam isu ini,” ujar Ghoffar.
Bersama Mencegah Fenomena Gunung Es
Adapun Plt. Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Khusus Anak DP3AP2KB DIY Arif Nasrudin mengatakan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen berbagai pihak, khususnya, Kementerian Agama dan RMI, dalam mencegah kekerasan anak di pesantren.
Hal ini mengingat tingginya angka kekerasan terhadap anak di DIY. Sebagai gambaran, DP3AP2KB DIY mendampingi 1.000-1.500 anak yang menjadi korban kekerasan per tahun dengan jumlah korban mencapai 1.152 anak pada 2025. “Angka ini merupakan pucuk gunung es karena sebenarnya masih banyak korban yang belum melapor,” katanya.
Kasus-kasus tersebut berdampak pada citra Yogyakarta sebagai kota pendidikan. Untuk itu, sesuai instruksi Gubernur DIY, DP3AP2KB DIY diminta lebih proaktif dalam melakukan pencegahan kekerasan di lembaga yang berhubungan dengan anak, termasuk di pesantren.
“Upaya pencegahan kekerasan terhadap anak tidak bisa kami lakukan sendiri, tapi dengan menggandeng semua pihak, mulai dari Kemenag, ormas besar seperti NU, forum-forum pesantren, juga perguruan tinggi seperti UNU Jogja ini,” paparnya.
Komitmen Menjadi Pesantren yang Amanah
Ketua RMI PWNU DIY Muhammad Nizam Yahya menyambut positif atas kesediaan pesantren-pesantren di DIY dalam penyusunan SOP perlindungan anak ini. Menurutnya, saat ini pondok pesantren tengah mengalami cobaan dengan adanya temuan sejumlah pesantren yang bermasalah.
Namun hal itu berdampak pada citra pesantren secara keseluruhan yang mayoritas sudah menerapkan pembelajaran dengan baik. Hanya saja, saat ini informasi-informasi negatif dari segelintir pesantren tersebut berkembang dengan cepat di media sosial.
Untuk itu, tudingan tersebut harus dijawab lewat langkah nyata dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap anak. “Kita tampil menjawab melalui penyusunan SOP ini dan berkomitmen menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang amanah,” tandasnya.
Workshop yang berlangsung secara interaktif ini diikuti dengan antusias oleh puluhan pengasuh pondok pesantren di DIY. Sejumlah pengasuh bahkan membagikan praktik baik pencegahan kekerasan di pesantren, seperti dengan menghadirkan konselor dan psikolog, pelatihan untuk pengurus pondok, hingga pemasangan CCTV.
Bertindak sebagai fasilitator adalah psikolog Maya Fitria dan peneliti LP3M UNU Jogja, yakni Yusnita Ike Christanti dan Saeroni yang masing-masing menyampaikan tentang SOP pencegahan dan SOP penanganan pelanggaran perlindungan anak di lingkungan pesantren. [Arif]
Bagikan
Berita Terkait
UNU Jogja Dipercaya Paparkan Tata Kelola Satgas PPKPT di Hadapan 99 Perguruan Tinggi Swasta di DIY
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 4 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit

Tingkatkan Produktivitas Peternakan, Mahasiswa UNU Jogja Kembangkan Inovasi Smart Incubator Penetas Ayam
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 30 Jul, 2026 | Durasi. 4 Menit

UNU Jogja dan NU Care-LAZISNU DIY Bekali UMKM Susun Business Plan dan Strategi Pemasaran Produk
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 30 Jul, 2026 | Durasi. 4 Menit

Mujahadah Kiai Kabupaten Sleman Digelar di UNU Jogja, Rektor Ajak Masyarakat Manfaatkan Berbagai Program Studi dan Beasiswa
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 27 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit
Berita Populer
Mutiara Azzahra Tzabitah Zain Ababil, Mahasiswi Tuli Prodi Teknologi Hasil Pertanian UNU Jogja Raih Juara Harapan I Turnamen Futsal Tuli Antar Klub 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit
Mahasiswa PGSD UNU Jogja Raih Juara II Lomba Cipta Lagu Anak Tingkat Nasional
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit
JQH IAC UNU Jogja Raih Juara 1 Putra dan Juara Umum Festival Barzanji Trophy PBNU XI
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 27 Jul, 2026 | Durasi. 2 Menit
Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit
