Member Logo

Saat Label "Halal" Menjual "Hijau": Menyingkap Fenomena Halal Greenwashing

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 21 Aug, 2026

Est. 4 Menit

Saat Label "Halal" Menjual "Hijau": Menyingkap Fenomena Halal Greenwashing

Oleh : Budi Sutiono PN, S.E., M.M.,

[OPINI] Fenomena halal greenwashing kini menjadi tantangan serius di tengah pesatnya pertumbuhan industri halal global yang berupaya merespons tren gaya hidup berkelanjutan. Ketika konsumen modern menuntut produk yang tidak hanya patuh secara syariat tetapi juga ramah lingkungan dan diproduksi secara etis, banyak perusahaan meresponsnya dengan mengintegrasikan klaim halal dan narasi eco-friendly dalam strategi pemasaran mereka. Perkembangan ini sejatinya mencerminkan pergeseran paradigma pasar global, di mana nilai-nilai spiritualitas dan tanggung jawab ekologis mulai terintegrasi menjadi satu standar baru dalam keputusan pembelian masyarakat.

Sayangnya, tidak sedikit produsen yang memanfaatkan kombinasi narasi ini sekadar sebagai gimmick visual—menggunakan kemasan berwarna hijau, ornamen simbolis, atau gambar alam yang menyejukkan—tanpa dibarengi bukti substantif pada praktik rantai pasok (supply chain) mereka. Praktik pencitraan semu ini kerap kali mengelabui mata publik yang merindukan produk etis. Secara substansial, praktik ini menciptakan disonansi moral karena mereduksi hakikat halalan thayyiban, di mana aspek thayyib seharusnya mencakup kebaikan yang luas dan holistik, termasuk pelestarian ekosistem, keadilan sosial, perlindungan hak-hak pekerja, serta proses produksi yang bebas dari eksploitasi lingkungan. Mengabaikan aspek kebaikan lingkungan demi margin keuntungan belaka sejatinya merupakan bentuk penyimpangan terhadap esensi thayyib itu sendiri.

Dialektika Halal Greenwashing di Pasar Modern

Secara akademis, halal greenwashing dapat dipahami melalui hubungan dialektis yang saling mempengaruhi antar pemangku kepentingan:

https://firebasestorage.googleapis.com/v0/b/unuy-internal-prod.appspot.com/o/Picture1-1787300062452.png?alt=media&token=6c7a6424-572f-4439-a71d-4766d520ff96

1. Tesis (Klaim Keberlanjutan & Halal): Berada pada tahap awal di mana perusahaan secara agresif mengadopsi narasi etis, keagamaan, dan kelestarian lingkungan untuk membangun citra merek (brand image) yang positif serta merebut simpati pasar.

2. Antitesis (Kritik & Skeptisisme Konsumen): Berbenturan langsung dengan tesis ketika konsumen yang semakin teredukasi beserta lembaga pengawas mulai menemukan ketidaksesuaian (mismatch) antara janji manis di media promosi dengan kenyataan operasional di lapangan.

3. Sintesis (Sistem Transparansi Digital & Sertifikasi Integratif): Muncul sebagai jalan keluar yang mengharuskan hadirnya mekanisme akuntabilitas baru untuk menjembatani jurang keraguan tersebut secara objektif.

Mereduksi Credence Attributes dan Mengancam Legitimasi

Konflik dialektis ini memicu krisis yang fundamental karena kepatuhan halal dan keberlanjutan tergolong sebagai credence attributes—yaitu kualitas atau atribut produk yang tidak dapat diverifikasi secara langsung oleh konsumen, bahkan setelah produk tersebut dibeli dan dikonsumsi. Seorang konsumen tidak bisa mendeteksi secara kasat mata apakah sebotol minuman diproduksi tanpa merusak sumber air lokal, atau apakah bahan kosmetik diproses secara etis tanpa uji coba hewan yang menyiksa. Oleh karena itu, integritas produsen dan kepercayaan (trust) publik menjadi fondasi paling utama dalam ekosistem bisnis ini.

Jika penyalahgunaan simbol keagamaan dan narasi lingkungan ini terus dibiarkan tanpa pengawasan yang ketat, dampaknya akan sangat merusak. Fenomena ini akan memicu erosi kepercayaan publik secara masif, merusak kredibilitas merek-merek halal di kancah internasional, serta merugikan produsen-produsen jujur yang telah berinvestasi besar untuk benar-benar menerapkan praktik ramah lingkungan. Ketika konsumen dilanda skeptisisme yang mendalam (consumer cynicism), mereka akan cenderung menggeneralisasi bahwa seluruh klaim etis di pasar hanyalah kebohongan pemasaran semata.

Menuju Sintesis: Penguatan Akuntabilitas dan Transparansi

Oleh karena itu, sebagai sintesis dari permasalahan ini, industri halal masa depan secara mendesak memerlukan mekanisme akuntabilitas yang jauh lebih kuat dan dapat diuji secara objektif. Langkah nyata ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan imbauan moral, melainkan harus diwujudkan melalui:

  1. Sertifikasi Integratif: Pembentukan standar audit yang menyatukan kelayakan syariat dengan kriteria keberlanjutan lingkungan (Environmental, Social, and Governance / ESG).
  2. Pemanfaatan Teknologi Ketertelusuran (Traceability) Digital: Penggunaan sistem pelacak modern seperti QR code interaktif atau pemanfaatan blockchain untuk memberikan akses informasi terbuka bagi konsumen mengenai asal-usul bahan baku dan jejak karbon produk secara real-time.

Hanya melalui kepastian transparansi berbasis data inilah, integritas halal dan kepedulian lingkungan dapat terwujud secara autentik dan terukur. Langkah ini menjadi kunci penting agar komitmen keberlanjutan dalam industri halal tidak berhenti sebagai janji manis di atas kemasan, melainkan benar-benar menghadirkan kemaslahatan yang nyata bagi masyarakat dan kelestarian bumi.*

Penulis  : Budi Sutiono PN, S.E., M.M., merupakan dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta. Selain aktif mengajar, ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi UNU Yogyakarta periode 2018–2022. 

Editor : Latifah

*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya penulis. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi. 

Bagikan

Berita Terkait

UNU Jogja Siapkan Asesor RPL, Buka Pengakuan Kompetensi bagi Mahasiswa Baru

UNU Jogja Siapkan Asesor RPL, Buka Pengakuan Kompetensi bagi Mahasiswa Baru

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 27 Aug, 2026 | Durasi. 2 Menit

UNU Jogja Dorong Dosen Tingkatkan Publikasi Global melalui Workshop from Research to Global Publication

UNU Jogja Dorong Dosen Tingkatkan Publikasi Global melalui Workshop from Research to Global Publication

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 27 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit

Berita Populer

Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit

Mutiara Azzahra Tzabitah Zain Ababil, Mahasiswi Tuli Prodi Teknologi Hasil Pertanian UNU Jogja Raih Juara Harapan I Turnamen Futsal Tuli Antar Klub 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa PGSD UNU Jogja Raih Juara II Lomba Cipta Lagu Anak Tingkat Nasional

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit