Member Logo

UNU Jogja Kembangkan Inovasi Produk Herbal untuk Memperkuat Keberlanjutan Desa Wisata Jamu Kiringan

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 30 Jun, 2026

Est. 3 Menit

UNU Jogja Kembangkan Inovasi Produk Herbal untuk Memperkuat Keberlanjutan Desa Wisata Jamu Kiringan

Yogyakarta, Indonesia – Jamu tradisional telah lama menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia sekaligus sumber penghidupan bagi banyak masyarakat di pedesaan. Namun, keterbatasan diversifikasi produk, masa simpan yang relatif singkat, dan pemasaran yang masih konvensional menjadi tantangan yang membatasi potensi ekonomi produk herbal. Untuk menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNU Jogja mengembangkan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang berfokus pada hilirisasi inovasi produk jamu berbasis Tanaman Obat Keluarga (TOGA). 

Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) ini diawali dengan kegiatan sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 20 anggota Kelompok Jamu Gendong Marguna di Rumah Produksi Kelompok Jamu Gendong Marguna, Desa Wisata Jamu Kiringan, Kalurahan Canden, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis, (25/6).

Program dipimpin oleh Nur Saudah Al Arifa D. dari Program Studi Agribisnis, Fakultas Industri Halal UNU Jogja, bersama Ertha Martha Intani dan Fitri Andriani Fatimah. Melalui program ini, tim berupaya mengembangkan produk jamu tradisional menjadi produk bernilai tambah yang lebih tinggi sekaligus memperkuat identitas Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata kesehatan berbasis kearifan lokal.

Baca juga : Runner Up IV Putri Budaya Yogyakarta 2026, Mahasiswa Farmasi UNU Jogja Ajak Generasi Muda Berani Lestarikan Budaya

Menurut Nur Saudah, Desa Wisata Jamu Kiringan memiliki potensi besar sebagai salah satu sentra produksi jamu tradisional di Yogyakarta. Namun, sebagian besar produk masih dipasarkan dalam bentuk jamu segar dengan masa simpan yang terbatas sehingga sulit menjangkau pasar yang lebih luas. Oleh karena itu, program ini difokuskan pada hilirisasi inovasi produk melalui pengembangan produk herbal yang lebih praktis, peningkatan kualitas kemasan, penguatan manajemen usaha, serta pengembangan strategi pemasaran dan branding yang terintegrasi.

"Kami melihat bahwa masyarakat sebenarnya memiliki pengetahuan yang kuat mengenai jamu tradisional. Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah tanpa meninggalkan identitas lokal,” katanya.

Selain menjadi forum diskusi, Focus Group Discussion (FGD) juga dimanfaatkan sebagai proses identifikasi kebutuhan masyarakat secara partisipatif. Melalui kegiatan tersebut, tim bersama mitra menyusun berbagai prioritas program, mulai dari inovasi produk berbasis TOGA, peningkatan kapasitas produksi, penguatan manajemen usaha, pengembangan kemasan produk, hingga strategi pemasaran.

Baca juga : Belajar dari Pemadaman Listrik: Dosen UNU Jogja Jelaskan Mengapa Pemulihan Membutuhkan Waktu

Dalam beberapa bulan ke depan, program akan dilanjutkan melalui serangkaian pelatihan yang mencakup inovasi jamu serbuk instan, pengembangan wedang uwuh celup, budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA), manajemen usaha, pengemasan produk, serta branding dan pemasaran.

Lebih dari sekadar menghasilkan inovasi produk, program ini bertujuan membangun model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pengetahuan lokal, hasil riset terapan, dan pengembangan kewirausahaan. Dengan mengombinasikan pendekatan ilmiah dan kearifan lokal dalam pengolahan jamu tradisional, program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus mendukung keberlanjutan Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai destinasi wisata berbasis herbal.

Program ini juga mencerminkan komitmen UNU Jogja dalam menerjemahkan hasil-hasil akademik menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas lokal, program diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan ekonomi daerah, pelestarian pengetahuan tradisional, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek pemberdayaan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. [Latifah]

Bagikan

Berita Terkait

Mahasiswa Manajemen UNU Jogja Gelar Inklusif Inspire, Dukung Pengembangan Potensi Anak Penyandang Disabilitas

Mahasiswa Manajemen UNU Jogja Gelar Inklusif Inspire, Dukung Pengembangan Potensi Anak Penyandang Disabilitas

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 16 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit

Dosen UNU Jogja Resmi Sandang Gelar Profesi Insinyur, Perkuat Kompetensi Akademik

Dosen UNU Jogja Resmi Sandang Gelar Profesi Insinyur, Perkuat Kompetensi Akademik

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit

Belajar dari Kasus Penyekapan Perempuan di Jawa Barat: Mengapa Penting Mengenali Tanda-Tanda Kekerasan dalam Relasi?

Belajar dari Kasus Penyekapan Perempuan di Jawa Barat: Mengapa Penting Mengenali Tanda-Tanda Kekerasan dalam Relasi?

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 2 Jul, 2026 | Durasi. 4 Menit

Dr. Nur Hidayah, Dosen SII UNU Jogja, Raih Hibah Visiting Research LPTNU untuk Teliti Invisibilitas Maturidiyah di Pesantren Nusantara

Dr. Nur Hidayah, Dosen SII UNU Jogja, Raih Hibah Visiting Research LPTNU untuk Teliti Invisibilitas Maturidiyah di Pesantren Nusantara

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 1 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit

Berita Populer

UNU Jogja Raih Terbaik 1 Anugerah Kerja Sama Diktisaintek LLDIKTI Wilayah V 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 8 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit

Abdul Latif, Mahasiswa Informatika UNU Jogja Raih Juara II Lomba Desain Poster Peksimiprov DIY 2026 Peksimiprov DIY 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 6 Jul, 2026 | Durasi. 2 Menit

UNU Jogja Juara 1 untuk Pengelolaan Laman di Anugerah Humas Diktisaintek LLDIKTI Wilayah V

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 3 Jul, 2026 | Durasi. 4 Menit

Runner Up IV Putri Budaya Yogyakarta 2026, Mahasiswa Farmasi UNU Jogja Ajak Generasi Muda Berani Lestarikan Budaya

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 29 Jun, 2026 | Durasi. 4 Menit