Usai Tahlil, Warga Kaliabu Kidul Meriahkan Tirakatan dengan Lomba Karaoke
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 20 Aug, 2026
Est. 9 Menit

Tembang ‘Nyidam Sari’ berulang kali mengalun di halaman Masjid Darussalam, Padukuhan Kaliabu Kidul, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Minggu malam, 16 Agustus 2026. Bukan dari panggung penyanyi profesional, tembang campursari tersebut dibawakan oleh warga dalam sebuah lomba karaoke yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia.
Para pesertanya bukan anak muda yang sehari-hari akrab dengan panggung hiburan. Sebanyak 16 bapak dan 16 ibu bergantian menunjukkan kemampuan bernyanyi di hadapan tetangganya. Kategori perlombaan dipisahkan antara kelompok bapak-bapak dan ibu-ibu. Mereka dinilai berdasarkan kualitas vokal, penampilan, kostum, kepercayaan diri, serta ketepatan dalam memilih lagu.
Nyidam Sari menjadi lagu yang paling banyak dibawakan malam itu. Tembang ciptaan Manthous yang populer dalam khazanah campursari itu menjadi penghubung antara musik Jawa dan kemeriahan Agustusan di kampung.
Sekitar 200 warga duduk bersama mengikuti pagelaran malam itu sebagai malam tirakatan yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Acara dimulai pukul 19.30 WIB dengan upacara dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu, warga mendengarkan pembacaan sambutan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Rangkaian acara dilanjutkan dengan tahlil dan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus penghormatan kepada para pejuang yang telah mengorbankan hidupnya untuk kemerdekaan.
Selepas tahlil, suasana perlahan berubah. Panggung yang semula digunakan untuk rangkaian acara resmi menjadi ruang hiburan bagi warga. Musik dimainkan, peserta dipanggil satu per satu, dan lomba karaoke berlangsung hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir sekitar pukul 23.30 WIB.
Tradisi yang tumbuh setelah kemerdekaan
Malam tirakatan lazim dilaksanakan pada 16 Agustus malam, beberapa jam sebelum peringatan hari kemerdekaan. Tradisi ini banyak dijumpai di Jawa, terutama Yogyakarta dan Jawa Tengah. Bentuk kegiatannya beragam, mulai dari doa bersama, tahlil, kenduri, mengheningkan cipta, pembacaan teks Proklamasi, pemotongan tumpeng, hingga pentas kesenian.
Istilah tirakatan berasal dari kata “tirakat”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tirakat berkaitan dengan menahan hawa nafsu atau menjalani laku tertentu untuk tujuan spiritual. Dalam kebudayaan Jawa, tirakat juga dikenal sebagai bentuk laku prihatin, pengendalian diri, dan perenungan batin.
Ketika diterapkan dalam peringatan kemerdekaan, maknanya bergeser menjadi malam untuk merenungkan perjuangan bangsa. Warga tidak hanya merayakan keberhasilan Indonesia memperoleh kemerdekaan, tetapi juga diajak mengingat harga yang harus dibayar untuk mencapainya. Pelaksanaannya menyebar dari lingkungan pedesaan hingga perkotaan, terutama di tingkat RT, kampung, dan desa.
Seiring waktu, tirakatan tidak lagi terbatas pada perenungan secara personal. Tradisi tersebut berkembang menjadi kegiatan komunal yang mempertemukan warga dari latar belakang berbeda. Doa, zikir, dan renungan berpadu dengan kegiatan sosial, pembagian makanan, penampilan seni, serta hiburan rakyat. Susunan kegiatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing lingkungan. Karena itulah, tidak semua kampung merayakannya dengan cara yang sama.
Di tirakatan warga Kaliabu Kidul tidak ada tumpeng yang biasa disajikan warga daerah lainnya pada malam itu, namun rasa syukur tetap disampaikan melalui tahlil, doa, dan kebersamaan. Ketiadaan tumpeng juga menunjukkan bahwa inti tirakatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan atau prosesi tertentu. Kebutuhan kegiatan juga dipenuhi melalui donasi warga. Masyarakat menyumbang sesuai kemampuan agar tradisi tahunan tersebut dapat kembali dilaksanakan.
Ketua RW 13 Sukir bersama masyarakat dan pemuda setempat terlibat dalam penyelenggaraannya. Remaja yang tergabung dalam Karang Taruna Kaliabu RW 13 mengambil bagian dalam mempersiapkan dan menjalankan kegiatan. Keterlibatan anak muda penting dalam menjaga keberlanjutan tradisi. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengurus kebutuhan teknis dan memastikan rangkaian acara berjalan. Sementara itu, panggung hiburan justru diberikan kepada para bapak dan ibu.
Sebanyak 32 peserta yang hadir membuat acara karaoke menjadi bagian penting dari perayaan. Penilaian yang mencakup kostum, gaya penampilan, dan kepercayaan diri juga menunjukkan bahwa warga tidak semata-mata mencari suara terbaik. Di panggung itu, keberanian dan kemampuan menghibur masyarakat akan mendapatkan penghargaan yang sama.
Tirakatan Lintas Agama di Kulon Progo
Cara unik merayakan tirakatan juga ditemukan di Padukuhan Karangwetan, Kalurahan Salamrejo, Kapanewon Sentolo, Kulon Progo. Warga menyelenggarakan tirakatan di sebuah joglo milik warga RT 18. Keunikan utamanya terletak pada doa bersama yang dipimpin secara bergiliran oleh pemuka agama Islam, Kristen, dan Katolik. Toleransi tidak hanya dibicarakan melalui sambutan, tetapi dipraktikkan dalam satu ruang yang sama.
Acara tersebut juga diisi panembromo oleh kelompok ibu-ibu dan paduan suara pemuda-pemudi. Setelah tumpeng dipotong oleh Dukuh Karangwetan, potongan pertama diserahkan kepada perwakilan generasi muda. Prosesi sederhana itu dapat dimaknai sebagai simbol penyerahan tanggung jawab untuk menjaga kemerdekaan dan kerukunan kepada generasi berikutnya.
Srunthul bangun dari tidurnya
Di Padukuhan Kaliajir Lor, Kalurahan Kalitirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, warga menggunakan malam tirakatan sebagai panggung untuk menghidupkan kembali kesenian Srunthul. Kesenian rakyat tersebut tampil pada bagian akhir acara di lapangan voli Kaliajir Lor.
Meskipun hanya menyuguhkan potongan cerita, kemunculan Srunthul menjadi peristiwa penting karena kesenian itu semakin jarang dipentaskan. Malam kemerdekaan bukan hanya menjadi ruang untuk mengenang sejarah nasional, tetapi juga kesempatan menyelamatkan ingatan budaya kampung.
Gunungan dan cucuk lampah di Gemawang
Warga Padukuhan Gemawang, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, mengemas tirakatan dengan arak-arakan gunungan khas Jawa. Gunungan tersebut dikawal oleh cucuk lampah yang berjalan di depan rombongan sebagai pembuka jalan.
Prosesi itu mempertemukan identitas kebangsaan dan kebudayaan lokal. Warga tetap menyanyikan lagu Indonesia Raya dan merenungkan perjuangan para pahlawan, tetapi mereka merayakannya melalui simbol-simbol yang dekat dengan masyarakat Jawa.
Gunungan umumnya disusun sebagai simbol rasa syukur, kemakmuran, dan hasil kerja masyarakat. Kehadirannya membuat tirakatan tidak hanya berupa acara duduk dan berdoa, melainkan berkembang menjadi kirab budaya yang melibatkan lebih banyak warga.
Panggung dengan latar konstruksi
Keterbatasan tempat tidak menghentikan warga Karangasem di Padukuhan Gempol, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Mereka memanfaatkan area sederhana dengan latar konstruksi untuk mendirikan panggung tirakatan.
Di tempat itu, anak-anak menampilkan kreasi seni, warga bernyanyi dalam paduan suara, dan masyarakat berkumpul mengenang perjuangan. Struktur bangunan yang belum selesai justru menjadi latar visual yang berbeda dari panggung kampung pada umumnya.
Secara simbolis, bangunan yang belum selesai juga dapat menggambarkan perjuangan kemerdekaan. Indonesia telah merdeka selama 81 tahun, tetapi pekerjaan untuk menciptakan kehidupan yang adil, aman, dan sejahtera belum berakhir. Seperti konstruksi tersebut, kemerdekaan masih harus terus dibangun.
Membicarakan ancaman zaman digital
Di Dusun Bantar Wetan, Kalurahan Banguncipto, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, malam tirakatan menjadi ruang untuk membicarakan tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Kepala Dusun Bantar Wetan, Surono, mengingatkan warga tentang risiko perkembangan teknologi, mulai dari konten negatif dan judi online hingga penyalahgunaan narkoba. Persoalan itu dinilai semakin dekat dengan kehidupan anak-anak di daerah.
Pesan tersebut membuat makna perjuangan menjadi lebih kontekstual. Jika generasi terdahulu berjuang melawan penjajahan, keluarga hari ini menghadapi ancaman yang dapat masuk melalui telepon genggam dan memengaruhi kehidupan rumah tangga.
Tirakatan di Bantar Wetan juga dimeriahkan dengan pembacaan puisi dan pertunjukan tari. Sebelumnya, warga menyelenggarakan perlombaan bagi anak-anak, orang dewasa, dan kegiatan olahraga.
Kemerdekaan yang dirawat dari lingkungan terkecil
Beragam tirakatan di Yogyakarta memperlihatkan bahwa tradisi dapat bertahan tanpa harus membeku dalam satu bentuk. Ada kampung yang memilih doa lintas agama, menghidupkan kesenian lama, mengarak gunungan, membangun panggung di tengah konstruksi, atau membicarakan ancaman zaman digital.
Di Kaliabu Kidul, kemerdekaan dirayakan melalui tahlil dan karaoke bapak-ibu. Bentuknya sederhana, tetapi menyimpan fungsi sosial yang penting. Sekitar 200 orang meninggalkan kesibukan masing-masing untuk berkumpul sebagai warga. Pada malam itu, halaman Masjid Darussalam menjadi ruang yang menampung tiga unsur sekaligus: nasionalisme, religiositas melalui tahlil, serta kegembiraan rakyat melalui lomba karaoke.
Tirakatan mempunyai kekuatan karena mempertemukan masyarakat dalam kedudukan yang setara. Tidak ada jarak yang terlalu lebar antara tokoh kampung, pemuda, orang tua, dan anak-anak. Semuanya hadir sebagai tetangga yang berbagi tempat tinggal dan masa depan lingkungan yang sama.
Barangkali kemerdekaan memang tidak selalu hadir melalui perayaan besar. Di kampung-kampung Yogyakarta, kemerdekaan hidup dalam tindakan-tindakan kecil: menyisihkan uang untuk donasi, membantu pemuda menyiapkan acara, berdoa bagi para pendahulu, menjaga kerukunan, dan memberikan tepuk tangan kepada tetangga yang berani bernyanyi.*
Kontributor : Nofita Nur Safitri, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar UNU Jogja, Angkatan 2022. Aktif menulis sejak 2017 dimulai dengan menjadi Wartawan Indonesia Scout Journalist 7+ years, penulis 3 buku sastra, ikut lomba menulis puisi 20x tingkat nasional, menjadi kontributor penulis di media Pramuka Kabupaten Purbalingga. Sekarang sedang eksekusi program aksi sosial GerakDampak Academy dari Indika Foundation.
Editor : Latifah
*Catatan Redaksi: Tulisan ini merupakan karya kontributor. Seluruh isi, pandangan, interpretasi, dan informasi yang disampaikan menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak bertanggung jawab atas pandangan atau pendapat yang terdapat dalam tulisan, di luar proses penyuntingan yang dilakukan untuk kepentingan publikasi.
Bagikan
Berita Terkait

Merapatkan Barisan untuk Kemaslahatan Jama’ah dan Jam’iyah Nahdlatul Ulama
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 11 Sep, 2026 | Durasi. 5 Menit

Refleksi Maulid: Menjadi Baik di Mata Nabi
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 28 Aug, 2026 | Durasi. 5 Menit

Merenungkan Kembali Arti Merdeka Melalui Doa dan Kebersamaan Warga
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 9 Menit

Meneladani Rasulullah SAW, UNU Jogja Ajak Civitas Perkuat Kecintaan dan Keteladanan
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit
Berita Populer
Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit
Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit
Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026
Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit
Mutiara Azzahra Tzabitah Zain Ababil, Mahasiswi Tuli Prodi Teknologi Hasil Pertanian UNU Jogja Raih Juara Harapan I Turnamen Futsal Tuli Antar Klub 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit
