Member Logo

Kerja dari Mana Saja, Tapi Tidak Selalu Terhubung: Krisis Spiritualitas Kerja di Era Teleworking

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 22 Jun, 2026

Est. 4 Menit

Kerja dari Mana Saja, Tapi Tidak Selalu Terhubung: Krisis Spiritualitas Kerja di Era Teleworking

Dalam beberapa tahun terakhir, cara orang bekerja mengalami perubahan yang sangat signifikan. Ruang kantor yang dulu menjadi pusat aktivitas kini bergeser ke layar laptop. Rapat dilakukan melalui aplikasi konferensi, diskusi berlangsung di ruang chat, dan kolaborasi terjadi tanpa harus bertatap muka langsung.

Kerja jarak jauh atau teleworking kini bukan lagi sekadar pengecualian, melainkan sudah menjadi bagian dari pola kerja baru. Namun di balik fleksibilitas tersebut, muncul tantangan yang tidak selalu terlihat, yakni bagaimana menjaga keterhubungan antar pekerja di tengah minimnya interaksi fisik.

Pengalaman Pekerja Remote dan Tantangan Psikologis di Era Kerja Digital 

Sejumlah pekerja digital menggambarkan pengalaman yang serupa. Pekerjaan tetap berjalan, target tercapai, tetapi rasa kebersamaan tidak selalu hadir seperti ketika bekerja di ruang kantor.

Baca juga : UNU Jogja Buka Pintu Ekspresi Mahasiswa Lewat "Lentera Kata di Panggung Jingga"

“Secara pekerjaan selesai, tapi kadang terasa seperti bekerja sendiri,” begitu gambaran yang kerap muncul dalam pengalaman kerja jarak jauh.

Fenomena ini tidak hanya dirasakan secara individual, tetapi juga tercermin dalam berbagai temuan global terkait kondisi pekerja remote. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan kerja jarak jauh tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga menyangkut pengalaman psikologis dan sosial pekerja dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Salah satu gambaran global datang dari laporan State of the Global Workplace 2025 yang dirilis oleh Gallup. Laporan tersebut menunjukkan bahwa pekerja jarak jauh memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan pekerja yang bekerja di lokasi fisik atau kantor.

Dalam laporan itu, sebanyak 45 persen pekerja remote mengaku mengalami stres pada beberapa hari sebelum survei dilakukan, sementara 46 persen pekerja hybrid juga melaporkan kondisi serupa.

Baca juga : Ekonom UNU Jogja Usulkan “1 Juta Teleworker Indonesia”, Diproyeksikan Dorong Devisa hingga Triliunan Rupiah

Selain stres, pekerja remote juga cenderung melaporkan emosi negatif yang lebih tinggi, seperti rasa marah, sedih, dan kesepian, dibandingkan pekerja yang bekerja langsung di kantor. Menariknya, pekerja hybrid justru menunjukkan tingkat emosi negatif yang lebih rendah dibandingkan pekerja on-site.

Survei tersebut melibatkan responden dari 160 negara dengan total 227.437 pekerja berusia 15 tahun ke atas, yang dikumpulkan pada periode April hingga Desember 2024 melalui wawancara tatap muka maupun telepon.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa tantangan dalam kerja jarak jauh merupakan fenomena global, bukan hanya terjadi di wilayah atau kelompok tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kerja digital membawa konsekuensi baru yang tidak hanya terkait produktivitas, tetapi juga kondisi emosional dan keterhubungan sosial pekerja.

Spiritualitas Kerja Jadi Faktor Kunci Kinerja Teleworker di Era Digital 

Dalam konteks tersebut, muncul perhatian pada konsep workspace spirituality atau spiritualitas kerja. Konsep ini merujuk pada bagaimana seseorang tetap merasakan makna dalam pekerjaannya, merasa terhubung dengan tim, serta memiliki keselarasan nilai dengan organisasi meskipun bekerja secara virtual.

Baca juga : Piala Dunia 2026, UNU Jogja Ajak Pelaku Ekonomi Kreatif Bangun Brand Lokal

Seiring berkembangnya sistem kerja digital, aspek ini semakin relevan karena teknologi memang memungkinkan orang tetap terhubung, tetapi tidak selalu mampu menghadirkan rasa kebersamaan dan keterlibatan emosional dalam bekerja.

Sejumlah kajian dalam bidang manajemen sumber daya manusia juga mulai menempatkan aspek ini sebagai faktor penting dalam memahami kinerja pekerja digital di era transformasi kerja.

Ekonom UNU Jogja, Dr. Ir. Suhada, dalam penelitiannya yang berjudul “From Workspace Spirituality to Performance: How Digital Skills and Innovative Work Behavior Shape Teleworking Outcomes” menyebut bahwa pekerja jarak jauh yang masih merasakan makna dalam pekerjaannya serta memiliki keterhubungan sosial dengan tim cenderung lebih stabil dalam menjalankan tugas, lebih adaptif terhadap perubahan, dan lebih aktif dalam berkontribusi secara digital.

Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa transformasi dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi atau sistem kerja yang digunakan, tetapi juga oleh faktor manusia yang lebih mendasar, yaitu bagaimana seseorang memaknai pekerjaannya.

Peran Organisasi dalam Membangun Budaya Kerja Digital yang Berpusat pada Manusia 

Dengan semakin meluasnya kerja jarak jauh, tantangan ke depan bukan hanya soal efisiensi dan produktivitas, tetapi juga bagaimana organisasi membangun kembali rasa keterhubungan di ruang kerja yang tidak lagi berbentuk fisik.

Baca juga : UNU Jogja Perluas Dampak Inovasi, Kulon Progo Tawarkan Kemitraan Smart Agriculture dan UMKM

Dari sisi organisasi, transformasi digital dipandang tidak cukup hanya berfokus pada investasi teknologi, tetapi juga pada pembangunan budaya kerja yang bermakna dan berpusat pada manusia. Perusahaan perlu secara berkelanjutan mengembangkan keterampilan digital karyawan agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang cepat.

Selain itu, sistem kerja juga perlu dirancang agar mampu memperkuat rasa kebersamaan dan keterhubungan antar pegawai meskipun bekerja secara virtual, sehingga kolaborasi dan loyalitas tetap terjaga. Lingkungan kerja yang mendukung inovasi juga menjadi penting, dengan memberikan ruang, kepercayaan, serta kesempatan bagi karyawan untuk bereksperimen dan mengembangkan ide-ide baru.

Lebih jauh, sistem penilaian kinerja teleworker juga disarankan untuk tidak hanya berfokus pada hasil pekerjaan, tetapi juga mempertimbangkan kemampuan dalam menyelesaikan tugas digital, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta kemampuan berkolaborasi dalam lingkungan kerja digital.

Pendekatan ini dinilai lebih sesuai dengan karakter dunia kerja modern yang semakin fleksibel, digital, dan berbasis kolaborasi. [Latifah]

 

*Sumber: 

  1. Presentase Pekerja yang Merasakan Emosi Negatif 2025 : https://data.goodstats.id/statistic/pekerja-remote-punya-tingkat-stres-lebih-tinggi-aveV6

  2. From workspace spirituality to performance: How digital skills and innovative work behavior shape teleworking outcomes : https://www.intangiblecapital.org/index.php/ic/article/view/3526

Bagikan

Berita Terkait

Hadapi Wajib Halal Oktober, UNU Jogja Perkuat Tata Kelola Pendampingan Sertifikasi Halal

Hadapi Wajib Halal Oktober, UNU Jogja Perkuat Tata Kelola Pendampingan Sertifikasi Halal

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 11 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Greenhouse TOGA Perkuat Branding Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai Destinasi Edukasi Tanaman Obat

Greenhouse TOGA Perkuat Branding Desa Wisata Jamu Kiringan sebagai Destinasi Edukasi Tanaman Obat

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 31 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit

Dosen UNU Jogja Perkuat Sinergi Akademik dalam Pengembangan Smart City Bantul

Dosen UNU Jogja Perkuat Sinergi Akademik dalam Pengembangan Smart City Bantul

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 29 Jun, 2026 | Durasi. 3 Menit

Atasi Masalah Kekeringan Desa Giripurwo, Program Kosabangsa UNU Jogja Raih Ranking 74 Dunia

Atasi Masalah Kekeringan Desa Giripurwo, Program Kosabangsa UNU Jogja Raih Ranking 74 Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Jun, 2026 | Durasi. 8 Menit

Berita Populer

Mewakili DIY, Agung Putra Darmara, Mahasiswa Prodi Manajemen UNU Jogja Raih Juara Harapan 2 Duta Genre Indonesia 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Sep, 2026 | Durasi. 6 Menit

Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit

Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia

Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit

Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026

Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit