Atasi Masalah Kekeringan Desa Giripurwo, Program Kosabangsa UNU Jogja Raih Ranking 74 Dunia
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 25 Jun, 2026
Est. 8 Menit

Yogyakarta, Indonesia - Parjiyo dan Jumilah kini dapat tersenyum semringah. Warga Desa Giripurwo, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu, lega lantaran masalah yang mendera desa mereka telah teratasi.
Keduanya adalah penggerak dua sektor yang menghidupkan denyut nadi perekonomian di desa tersebut. Parjiyo adalah peternak dari Kelompok Ternak Mandiri, sedangkan Jumilah merupakan perajin batik dari Natural Art.
Selama beberapa waktu, sektor peternakan dan kerajinan batik di Giripurwo tak berjalan sesuai harapan. “Dulu penanaman rumput untuk pakan ternak susah sekali pertumbuhannya,” kenang Parjiyo. Akibatnya, peternak harus membeli pakan tambahan yang tentu saja menambah biaya.
Adapun Jumilah menyebut sektor ekonomi kreatif setempat juga kurang produktif karena gangguan suplai energi. “Di sini sering ada pemadaman listrik dari PLN, sehingga kami terhalang untuk produksi batik,” kata dia. Alhasil, usaha yang dikembangkan ibu-ibu PKK ini pun meredup.
Kondisi itu tak lepas dari aspek geografis Giripurwo. Desa yang bereda di ujung selatan DIY, sekitar 35 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, itu didominasi tanah berkapur. Saat musim kemarau tiba, wilayah tersebut mengalami kekeringan.
Hasil pertanian dan peternakan yang menjadi gantungan hidup warga pun kerap tak memuaskan. Ini menjadikan Giripurwo sebagai salah satu wilayah di DIY yang menghadapi tantangan kemiskinan dan keterbatasan sumber daya.
Namun, di balik bentang alam yang gersang, harapan warga Giripurwo untuk mengubah keadaan tak pernah hilang. Harapan itu makin menyala ketika akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) menerapkan solusi inovasi untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi Desa Giripurwo.
Solusi ini hadir melalui program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2025, sebuah hibah riset dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Lewat program ini, dosen-dosen UNU Jogja—Zulfatun Ruscitasari S.E., M.Acc. (Dosen Fakultas Ekonomi), Irwan Novianto S.T., M.Eng. (Dosen Fakultas Teknologi Informasi), Septian Rico Hernawan S.Kom., M.Eng. (Dosen Fakultas Teknologi Informasi), dan Marosimy Millaty SE, M.Sc. (Dosen Fakultas Industri Halal)—serta sejumlah mahasiswa turun ke lapangan, menelusuri sudut-sudut Giripurwo, menemui dan menggali informasi dari warga untuk menghadirkan solusi.
Dengan pendekatan partisipatif, aplikatif, dan berkelanjutan, yang mengintegrasikan hasil riset dan kebutuhan nyata masyarakat, UNU Jogja bersama tim pendamping dari UGM menerapkan sejumlah inovasi. Antara lain budidaya rumput unggulan sebagai pakan ternak dan penerapan pompa air tenaga surya. Inovasi ini berbasis teknologi energi baru terbarukan (EBT) yang juga digunakan untuk membantu produksi batik, dimana dilakukan pendampingan manajerial.
Atas solusi inovatif UNU Jogja tersebut, para peternak dan perajin batik di Giripurwo tak lagi resah. “Sekarang penyiraman air untuk rumput pakan ternak malah bisa dikontrol dan dipantau dari rumah,” tutur Parjiyo.
Demikian juga ibu-ibu PKK yang merasakan dampaknya dan menggulirkan ekonomi kreatif tanpa kendala listrik. “Adanya panel surya dari UNU Jogja kita bisa dapat listrik gratis, terus kita produksi batik jadi lebih gampang dan lebih cepat,” kata Jumilah.
Pengembangan Pakan Ternak Unggulan
Langkah UNU Jogja mendukung kemandirian Desa Giripurwo diawali dengan pemetaan wilayah dan masalah. Desa seluas 2.725,7 hektar ini mayoritas berupa bukit-bukit kapur yang terjal dan dataran rendah yang terbentuk dari endapan kapur. Jenis tanah dan tingginya kemiringan lahan menyulitkan warga dalam pengelolaan pertanian dan peternakan.
Dosen Prodi Agribisnis UNU Jogja Marosimy Millaty yang terlibat dalam program Kosabangsa 2025 menjelaskan, kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi masyarakat setempat dalam memanfaatkan potensi alam, khususnya pada sektor pertanian dan peternakan.
“Di desa ini terdapat 12 kelompok tani dan kelompok ternak yang aktif. Ini menunjukkan potensi besar di sektor agribisnis, khususnya peternakan kambing dan sapi,” ujarnya.
Masalahnya, minimnya vegetasi alami dan sumber air membuat pasokan pakan ternak berkualitas menjadi terbatas. Selama ini, air yang digunakan untuk irigasi sebagian besar berasal dari gua bawah tanah yang sulit dijangkau, sedangkan infrastruktur pompa air belum tersedia.
Di sisi lain, kapasitas peternak dalam teknologi produksi dan manajemen pakan juga rendah. “Sebagian besar peternak masih menggunakan metode tradisional yang tidak mampu menjaga kualitas pakan jangka panjang,” imbuhnya.
Berbagai kondisi ini memaksa peternak membeli pakan dari luar daerah dengan harga tinggi, berkisar Rp2.500–Rp15.000 per ikat. Hal ini tentu saja menambah biaya operasional dan menurunkan produktivitas para peternak.
Melihat permasalahan ini, tim Kosabangsa UNU Jogja menawarkan pengembangan pakan ternak unggulan berbasis rumput Gama Umami. Rumput ini memiliki nutrisi lebih tinggi dan lebih tahan lahan kering dibanding rumput pakan ternak lainnya.
Pengembangan rumput pakan ternak ini bergulir dari hulu hingga hilir. Diawali penanaman rumput, pengolahan menjadi pakan, hingga manajemen stok.
Hasilnya positif. Produksi hijauan pakan peternak Giripurwo meningkat. Dari awalnya hanya mampu menopang sekitar 40–50 persen kebutuhan pakan harian, menjadi lebih dari 80–90 persen kebutuhan tercukupi—meningkat sekitar dua kali lipat.
Baca juga : Mahasiswa Teknik Elektro Kembangkan Sistem Parkir Otomatis Berbasis Sistem Tertanam
Penerapan teknologi silase juga memungkinkan pengawetan pakan lebih lama, yakni lebih dari 3 bulan. Alhasil, ketergantungan peternak terhadap pembelian pakan dari luar wilayah menurun signifikan. Yang tidak kalah penting, tim UNU Jogja memberikan pelatihan manajemen pakan modern yang diharapkan meningkatkan produktivitas ternak.
Energi Surya Berdayakan Multisektor
Lantas, dari mana datangnya air untuk membudidayakan rumput-rumput pakan ternak tersebut?
Selama ini, suplai air di Giripurwo terkendala medan yang berbukit-bukit dan ketiadaan sarana pompa air untuk mengangkat serta mengalirkannya untuk irigasi. Tim UNU Jogja pun berinovasi dengan memasang pompa air yang terintegrasi dengan panel surya dan teknologi Internet of Things (IoT).
Dosen Teknik Elektro UNU Jogja Irwan Novianto menjelaskan, pemanfaatan EBT tersebut dirancang untuk wilayah tanpa akses listrik yang stabil. Aliran air dari pompa air ini digunakan untuk mendukung irigasi kebun pakan seluas setengah hektar yang sebelumnya hanya mengandalkan hujan musiman.
“Secara kuantitatif, sistem pompa air tenaga surya ini mampu mengalirkan air secara stabil dan menekan biaya operasional irigasi hingga lebih dari 80 persen dibandingkan penggunaan pompa berbahan bakar fosil,” jelasnya.
Bukan hanya di sektor pertanian, teknologi EBT juga mampu mengembangkan sektor ekonomi kreatif. Panel-panel surya tersebut dipasang di rumah produksi batik Natural Art. Listrik yang dihasilkan digunakan khususnya untuk pemanasan malam dan pengeringan kain. Tahapan produksi ini sering terganggu akibat kerapnya pemadaman listrik konvensional di wilayah tersebut.
Dosen Prodi Teknik Komputer Septian Rico Hernawan menambahkan, penggunaan teknologi EBT plus IoT membuat produktivitas batik Giripurwo melonjak. “Setelah penerapan panel surya, proses produksi dapat berjalan lebih stabil dan kapasitas produksi meningkat dari rata-rata 5– 10 lembar menjadi 10–15 lembar kain batik per minggu,” ungkap Rico.
Perajin Batik Makin Profesional
Tidak hanya memberi solusi teknis dalam produksi batik, tim Kosabangsa UNU Jogja juga melihat adanya permasalahan lain pada sektor yang memberdayakan para perempuan Giripurwo tersebut.
Rupanya kemampuan manajemen para perajin batik masih terbatas. Pencatatan keuangan mereka tidak teratur dan pemasaran produk-produk batik juga belum dikelola dengan baik. Akibatnya, karya-karya batik ala Giripurwo yang khas, seperti batik shibori dan batik cap, sulit bersaing di pasar luas.
Baca juga : UNU Jogja Perluas Dampak Inovasi, Kulon Progo Tawarkan Kemitraan Smart Agriculture dan UMKM
Dari sisi manajemen usaha, kelompok PKK batik belum memiliki sistem pembukuan yang terstruktur. Arus kas usaha masih tercampur dengan keuangan rumah tangga sehingga sulit dilakukan analisis laba, perencanaan anggaran, dan pengembangan usaha secara berkelanjutan.
Untuk itulah, tim UNU Jogja juga memberi pelatihan manajemen keuangan dan pemasaran digital. Langkah ini untuk meningkatkan kemampuan para perajin dalam mengelola usaha secara lebih terstruktur dan profesional. Pemasaran pun dilakukan lebih masif dengan merambah dunia maya terutama dengan memanfaatkan media sosial dan e-commerce, seperti WhatsApp, Instagram, dan Shopee.
Melalui serangkaian inovasi ini, program Kosabangsa UNU Jogja telah memberikan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang signifikan.
Strategi Keberlanjutan Pengabdian Masyarakat
Selaku penanggung jawab program ini, Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian, dan Pengabdian Masyarakat UNU Jogja, Dr. Suhadi, menyatakan kegiatan ini telah berhasil meningkatkan kapasitas warga Giripurwo dalam berbagai bidang, mulai dari budidaya rumput pakan ternak, adaptasi teknologi baru panel surya, hingga manajemen keuangan dan pemasaran digital untuk usaha batik.
Baca juga : Alumni Jurusan Farmasi UNU Jogja Berkiprah di Pusat Krisis Kesehatan Regional Jawa Tengah Kemenkes RI
“Keberhasilan kegiatan didukung oleh pendampingan intensif, penyediaan alat praktik, modul materi yang jelas, serta koordinasi yang baik antara tim teknis, instruktur, dan peserta. Langkah-langkah pendampingan dan perencanaan yang matang memungkinkan kegiatan berjalan dengan efektif,” ujarnya.
Bukan hanya berdampak di masyarakat, capaian UNU Jogja ini bahkan menuai apresiasi pengakuan global. Program Kosabangsa UNU Jogja menempati ranking 74 dunia di ajang pemeringkatan kampus inovatif sejagat, The World University Rankings for Innovation (WURI) 2026, untuk kategori “Interdisciplinary, Convergent, and Integrated Research”.
Kategori tersebut salah satu dari 11 kategori yang menempatkan program-program UNU Jogja di posisi 100 Besar dan secara keseluruhan berada di ranking 303 dunia untuk kampus paling inovatif.
Dukungan UNU Jogja untuk kemandirian Desa Giripurwo tak lantas berhenti begitu program Kosabangsa 2025 berakhir dan memperoleh rekognisi internasional. Ketua Tim Kosabangsa UNU Jogja Zulfatun Ruscitasari menyatakan UNU Jogja menyiapkan strategi keberlanjutan pengabdian masyarakat di Giripurwo.
Baca juga : Belajar dari Praktisi, Mahasiswa SII UNU Jogja Dalami Industri Haji dan Umrah Berbasis Pelayanan
Strategi keberlanjutan program ini diwujudkan melalui ekspansi pasar pakan hingga ke luar daerah. Hal ini sebagai upaya peningkatan pendapatan mandiri oleh desa melalui kelompok usaha sekaligus berfungsi sebagai jaring pengaman stabilitas harga pakan bagi peternak lokal.
“Langkah ini diperkuat dengan inisiasi Laboratorium Sosial UNU Jogja di Giripurwo guna melembagakan program pasca-Kosabangsa 2025 serta mewadahi riset lanjutan dan pengabdian masyarakat yang berkesinambungan,” tutur Zulfatun.
Sejumlah potensi strategis juga menanti dikembangkan. Mulai dari agro-ekoturisme berbasis program Kosabangsa UNU Jogja, bisnis silase rumput Gama Umami, dan inovasi batik eco-print premium bersumber vegetasi lokal yang didukung riset pemasaran digital, hingga UNU Jogja.
Sistem tata air berbasis energi surya di Giripurwo pun dapat menjadi model untuk mengatasi kekeringan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Dengan demikian, solusi inovasi dan pengabdian UNU Jogja tak hanya dirasakan Parjiyo, Jumilah, dan warga Giripurwo, melainkan juga berdampak seluas-luasnya. [Arif]
Bagikan
Berita Terkait
Kerja dari Mana Saja, Tapi Tidak Selalu Terhubung: Krisis Spiritualitas Kerja di Era Teleworking
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 22 Jun, 2026 | Durasi. 4 Menit
%20Banner%20WURI%202026%20-%201-1781073748960.png?alt=media&token=223ef724-ea58-4b6c-8629-e8ed609a29c0)
UNU Jogja Ranking ke-303 Dunia, Top 100 di 11 Program Inovatif versi The World University Rankings for Innovation (WURI) 2026
Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 10 Jun, 2026 | Durasi. 5 Menit

Mengenal RPG Santri: Seeds of Hope, Inovasi Teknologi Tim UNU Jogja Yang Mendunia
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 28 Apr, 2026 | Durasi. 3 Menit
Berita Populer
Seleksi Ketat 1.081 Peserta, Mahasiswi PGSD UNU Jogja Lolos GerakDampak Academy 2026 Indika Foundation dan Angkat Isu Kesehatan Mental Mahasiswa
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Jun, 2026 | Durasi. 2 Menit
Mahasiswa PBI UNU Jogja Raih Dua Prestasi Nasional di NEC 2026, Angkat Isu Etika AI dan Dampak Lingkungan
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 23 Jun, 2026 | Durasi. 3 Menit
Mahasiswi Jurusan Farmasi UNU Jogja Raih Runner Up II dan Best Favorite Duta Kesehatan DIY 2026, Angkat Isu Sanitasi Lingkungan
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 17 Jun, 2026 | Durasi. 4 Menit
Alumni Jurusan Farmasi UNU Jogja Berkiprah di Pusat Krisis Kesehatan Regional Jawa Tengah Kemenkes RI
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 12 Jun, 2026 | Durasi. 2 Menit
