Kecerdasan Buatan untuk Kemaslahatan Umat, Plt Rektor UNU Jogja Tekankan Pemanfaatan Teknologi AI sesuai Kaidah Keislaman
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 24 Aug, 2026
Est. 5 Menit
Yogyakarta, Indonesia - Dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), perkembangan teknologi harus mampu menjadi kemaslahatan umat, yakni memberikan kebermanfaatan dan keberkahan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Untuk itu, NU memiliki pedoman dan panduan penggunaan teknologi yang selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan. Kaidah-kaidah inilah yang dapat diterapkan pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang belakangan ini digunakan secara masif.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) Dr. Fahmy Akbar Idries dalam agenda “UGM-ACU Human Flourishing Dialogue & Indonesia-Australia AI Roundtable”, di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (20/8). Forum yang digelar UGM dan Australian Catholic University (ACU) ini mempertemukan akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan Human Flourishing Center serta tata kelola, etika, peluang, dan risiko kecerdasan artifisial yang berorientasi pada manusia guna merumuskan agenda kolaborasi yang berdampak bagi masyarakat demi mencapai kesejahteraan manusia (human flourishing).
“Sekarang banyak hal bisa kita lakukan dengan mudah dan cepat menggunakan AI. Teknologi AI sudah sedemikian maju. Tapi, AI jelas bukan manusia dan tidak punya kebijaksanaan layaknya manusia. Jadi sudah menjadi tugas dan tanggung jawab kita bersama, terutama di lingkungan pendidikan, untuk mengarahkan kecerdasan buatan dengan kebijaksanaan manusia, sekaligus memastikan teknologi mengangkat, bukan justru merendahkan jiwa manusia,” paparnya.
Baca juga : Saat Label "Halal" Menjual "Hijau": Menyingkap Fenomena Halal Greenwashing
Fahmy menjelaskan konsep human flourishing dan pemanfaatan teknologi AI yang berpusat pada manusia selaras dengan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah. Dalam kaidah ini, kemajuan manusia bukan hanya dilihat dari hitungan ekonomi atau kemajuan teknologi, melainkan berdasarkan kemaslahatan umat dan keseimbangan antara kesejahteraan material, ketenteraman spiritual, dan keharmonisan sosial.
“Di lingkungan NU, ada usul fiqih yang terkenal, yakni prinsip untuk mempertahankan tradisi dan hal-hal lama yang baik, sekaligus menerapkan hal-hal baru yang lebih baik untuk menghasilkan manfaat lebih besar. Ini pula yang dapat diterapkan ketika kita menggunakan AI,” ujarnya.
Selain itu, NU juga mengenal prinsip keseimbangan (tawazun) dan moderat (tawasuth). Menurut Fahmy, prinsip tawazun dapat menunjukkan adanya batas-batas etika dalam penggunaan AI. Sementara, prinsip tawasuth mencegah kita terjebak dalam dua kutub ekstrem, yakni menggunakan teknologi AI secara total dan buta atau menolak penggunaannya secara mutlak.
Secara spesifik, penggunaan AI demi mewujudkan human flourishing dalam kaidah Ahlussunnah wal Jama'ah harus memperhatikan martabat manusia (karamah insaniyyah) dan prinsip-prinsip yang dilandasi Maqashid Syariah. Prinsip-prinsip tersebut meliputi penggunaan AI yang mampu menjaga intelektualitas (Hifz al-Aql), merawat kehidupan (Hifz al-Nafs), menegakkan keadilan sosio-ekonomi (Hifz al-Mal), menjaga agama (Hifz al-Din), dan melindungi generasi mendatang (Hifz al-Nasl).
Baca juga : Ketika Gelar Saja Tak Cukup: Kompetensi Apa yang Dicari Dunia Kerja dari Lulusan Manajemen?
“Kecerdasan buatan bisa membahayakan jika tidak dilandasi Maqashid Syariah. Sebagai jam'iyyah yang memiliki simpatisan lebih dari 140 juta orang, NU ingin pengembangan AI harus tetap memanusiakan manusia,” tegasnya.
Berbagai pedoman penggunaan AI untuk human flourishing yang sesuai dengan prinsip-prinsip nahdliyin itu telah dikaji dan menjadi bahan diskusi yang menarik di UNU Jogja. Sebagai contoh, Fakultas Dirasah Islamiyah telah mengembangkan perspektif human flourishing yang berlandaskan keimanan dan menjembatani tradisi intelektual Islam dengan ilmu-ilmu sosial, humaniora, dan teknologi termasuk soal AI.
Untuk itu, Fahmy berharap perspektif human flourishing juga menjadi pedoman bagi semua pemangku kepentingan yang terhadap perkembangan AI. Dengan perspektif itu, para pengembang AI seyogianya tetap menganggap AI sekadar sebagai alat (tools) yang tak dapat menggantikan peran manusia.
Dalam forum ini, ia pun menjabarkan sejumlah langkah yang dapat diambil untuk menyiapkan generasi yang mumpuni AI dan bertanggung jawab dalam penggunaannya. Antara lain dengan mengintegrasikan literasi AI dengan literasi etis, humanistik, dan spiritual di kalangan generasi muda dan memastikan AI menjangkau akar rumput untuk mendorong kemajuan masyarakat,
“AI bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian cerdas, memperkuat UMKM, hingga memberdayakan pesantren dan warga pedesaan,” katanya.
UNU Jogja juga siap melakukan riset terapan kolaboratif bersama UGM dan ACU sebagai model pemanfaatan AI yang bertanggung jawab dan berorientasi mewujudkan human flourishing. Menurut Fahmy, kolaborasi ini dapat menunjukkan bahwa gagasan human flourishing merupakan aspirasi universal yang melampaui agama dan bangsa.
“UNU Jogja memiliki jaringan luas yang mencakup komunitas NU, pesantren, ulama, pendidik, santri, mahasiswa, dan masyarakat umum. Ekosistem ini dapat menjadi jembatan penting untuk membumikan gagasan human flourishing secara luas,” tandasnya.
Vice-Chancellor and President ACU, Prof. Zlatko Skrbis, menegaskan bahwa human flourishing berakar dari relasi sosial, komunitas, dan kondisi material yang kontekstual, sebagaimana tercermin dalam filsafat klasik Yunani hingga kuatnya rasa kebersamaan masyarakat Indonesia dibandingkan tren individualisasi Barat. Mengingat tidak adanya satu model global yang seragam, ia memandang hubungan sosial dan kepercayaan antar masyarakat sebagai kunci stabilitas serta ketangguhan bangsa. Pesatnya perkembangan AI menghadirkan pertanyaan eksistensial tentang arah hidup serta fungsi manusia di dunia yang makin terotomatisasi.
“Yang menjadi inti persoalan bukan teknologinya, melainkan sisi antropologis dari integrasi teknologi,” jelasnya.
Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D. turut menekankan urgensi penempatan AI murni sebagai pendukung pertimbangan manusia, seraya membuka ruang strategis bagi Indonesia dan Australia untuk bersama-sama mengembangkan tata kelola AI yang bertanggung jawab serta inklusif di kawasan.
“AI yang berpusat pada manusia harus berfungsi untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan menggantikan penilaian manusia dan bukan pula mengurangi tanggung jawab manusia,” tegasnya.
Bagi UNU Jogja, kolaborasi lintas sektor ini menjadi ruang strategis untuk mengintegrasikan pandangan Islam moderat ke dalam diskursus global human flourishing dan etika kecerdasan artifisial. Melalui pendekatan yang memadukan sains masa depan dengan nilai kemaslahatan publik, UNU Jogja memperkuat peran organisasi keagamaan dalam memastikan pemanfaatan teknologi tetap berpihak pada martabat manusia dan pemberdayaan masyarakat luas.*
Penulis : Arif
Editor: Intan
Bagikan
Berita Terkait

Living Labs Banda Neira, Inovasi Kolaboratif UNU Jogja Berikan Dampak Nyata ke Timur Indonesia
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 9 Sep, 2026 | Durasi. 4 Menit

Prodi Agribisnis UNU Jogja dan IPB University Kolaborasi Kembangkan Ekosistem Wakaf Agraria
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 8 Sep, 2026 | Durasi. 4 Menit

UNU Jogja dan INSIMA Gelar Konferensi Internasional, Hadirkan Akademisi dari Benua Asia hingga Eropa
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Sep, 2026 | Durasi. 4 Menit

Dosen UNU Jogja Jadi Narasumber dalam Pelatihan Penyusunan RPS Berbasis OBE di Fakultas Agama Islam Universitas Islam Lamongan
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 2 Sep, 2026 | Durasi. 4 Menit
Berita Populer
Mahasiswa UNU Jogja Lolos Seleksi Program P2MW dan Peserta KMI Expo XVII Tahun 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Sep, 2026 | Durasi. 3 Menit
Mahasiswa dan Alumni UNU Jogja Ikuti Coinfest Asia 2026, Bersama Techie 90 Negara Tentukan Arah Pengembangan Teknologi dan Industri Digital Dunia
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 26 Aug, 2026 | Durasi. 4 Menit
Frequently Asked Questions (FAQ): BEASISWA TALENTA LESTARI 2026
Diterbitkan oleh Intan Agisti Nila Sari, 21 Jul, 2026 | Durasi. 9 Menit
Mutiara Azzahra Tzabitah Zain Ababil, Mahasiswi Tuli Prodi Teknologi Hasil Pertanian UNU Jogja Raih Juara Harapan I Turnamen Futsal Tuli Antar Klub 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 7 Aug, 2026 | Durasi. 3 Menit
