Belajar dari Kasus Penyekapan Perempuan di Jawa Barat: Mengapa Penting Mengenali Tanda-Tanda Kekerasan dalam Relasi?
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 2 Jul, 2026
Est. 4 Menit

Kasus dugaan penyekapan seorang perempuan di Jawa Barat yang menjadi perhatian publik beberapa waktu terakhir tidak hanya mengundang keprihatinan, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai pentingnya memahami berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Di balik setiap kasus yang muncul ke permukaan, terdapat banyak korban lain yang mungkin masih mengalami kekerasan, namun belum berani mencari pertolongan.
Bagi kalangan mahasiswa, memahami isu kekerasan berbasis gender menjadi bagian penting dari upaya membangun lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan saling peduli. Centre for Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta (UNU Jogja) menilai bahwa pencegahan kekerasan tidak hanya dilakukan melalui penegakan hukum, tetapi juga melalui peningkatan literasi masyarakat mengenai relasi yang sehat dan penghormatan terhadap hak setiap individu.
Menurut Direktur Centre for GEDSI UNU Jogja, Erin Gayatri banyak masyarakat masih mengidentikkan kekerasan dengan tindakan fisik. Padahal, kekerasan dapat hadir dalam berbagai bentuk, seperti kekerasan verbal, psikologis, seksual, ekonomi, hingga pengendalian yang membatasi kebebasan seseorang.
Baca juga : Bangun Budaya Kampus Tangguh Bencana, UNU Jogja Perkuat Sistem Proteksi Kebakaran Bersama BPBD DIY
"Kekerasan sering kali dimulai dari perilaku yang dianggap biasa, misalnya mengontrol pasangan secara berlebihan, membatasi pergaulan, atau membuat korban merasa bersalah setiap kali mengambil keputusan sendiri. Jika terus dibiarkan, pola tersebut dapat berkembang menjadi bentuk kekerasan yang lebih serius," jelasnya.
Mengenali Red Flags dalam Hubungan
Centre for GEDSI UNU Jogja mengajak mahasiswa untuk lebih peka terhadap tanda-tanda hubungan yang tidak sehat (red flags). Beberapa perilaku yang perlu diwaspadai antara lain pasangan yang selalu ingin mengontrol aktivitas, memeriksa telepon genggam tanpa izin, melarang bertemu teman atau keluarga, menggunakan ancaman untuk mendapatkan keinginannya, hingga membuat pasangan merasa takut untuk menyampaikan pendapat.
Perilaku tersebut sering kali disalah artikan sebagai bentuk perhatian atau kasih sayang. Padahal, hubungan yang sehat dibangun atas dasar rasa saling percaya, saling menghormati, dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang.
Mengapa Korban Sulit Keluar dari Situasi Kekerasan?
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul ketika sebuah kasus kekerasan mencuat adalah mengapa korban tidak segera meninggalkan pelaku. Menurut Erin, pertanyaan tersebut perlu dipahami dengan lebih empatik karena setiap korban memiliki kondisi yang berbeda.
Korban dapat mengalami tekanan psikologis, rasa takut, ancaman, ketergantungan emosional maupun ekonomi, hingga kekhawatiran terhadap keselamatan dirinya atau keluarganya. Faktor-faktor tersebut membuat proses keluar dari situasi kekerasan menjadi tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.
Baca juga : Dosen UNU Jogja Perkuat Sinergi Akademik dalam Pengembangan Smart City Bantul
"Daripada menyalahkan korban, yang lebih penting adalah menciptakan lingkungan yang mau mendengar, percaya, dan mendukung mereka untuk mendapatkan bantuan yang tepat," ungkapnya.
Peran Mahasiswa dalam Mencegah Kekerasan
Sebagai bagian dari komunitas akademik, mahasiswa memiliki peran penting dalam menciptakan budaya yang menghormati kesetaraan dan menolak segala bentuk kekerasan. Kepedulian terhadap teman yang menunjukkan perubahan perilaku, keberanian untuk melaporkan dugaan kekerasan melalui mekanisme yang tersedia, serta menghindari penyebaran informasi yang dapat memperburuk kondisi korban merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan.
Mahasiswa juga diharapkan menjadi agen perubahan dengan membangun relasi yang sehat, saling menghargai batasan pribadi, serta memahami bahwa setiap orang berhak merasa aman, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
Kampus sebagai Ruang Aman
Melalui Centre for GEDSI, UNU Jogja terus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang inklusif, bebas dari diskriminasi, pelecehan, maupun kekerasan. Edukasi mengenai kesetaraan gender, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan pencegahan kekerasan menjadi bagian dari upaya membangun budaya kampus yang aman bagi seluruh sivitas akademika.
Baca juga : Belajar dari Pemadaman Listrik: Dosen UNU Jogja Jelaskan Mengapa Pemulihan Membutuhkan Waktu
Kasus yang terjadi di berbagai daerah hendaknya tidak hanya menjadi konsumsi berita sesaat, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pencegahan kekerasan dimulai dari kesadaran setiap individu. Dengan memahami tanda-tanda kekerasan, membangun empati terhadap korban, serta menciptakan lingkungan yang saling mendukung, masyarakat dapat berkontribusi dalam mencegah terjadinya kekerasan di masa mendatang.
Centre for GEDSI dan SATGAS PPKPT UNU Jogja Siap Menjadi Ruang Konsultasi
Sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan kampus yang aman dan inklusif, Centre for Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) UNU Jogja juga menyediakan ruang konsultasi bagi sivitas akademika yang membutuhkan pendampingan maupun informasi terkait isu kesetaraan gender, pencegahan kekerasan, dan inklusi sosial.
Layanan ini diharapkan dapat menjadi tempat yang aman (safe space) bagi mahasiswa untuk berkonsultasi mengenai berbagai persoalan yang dihadapi, baik yang berkaitan dengan relasi yang tidak sehat, dugaan kekerasan berbasis gender, diskriminasi, maupun kebutuhan akan rujukan ke layanan profesional apabila diperlukan.
Baca juga : UNU Jogja Bersiap Menjadi Zona KHAS, Perkuat Komitmen Hadirkan Kantin Halal, Aman, dan Sehat
Erin mengajak mahasiswa untuk tidak ragu mencari bantuan apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada kekerasan.
"Tidak semua persoalan harus dihadapi sendirian. Kampus hadir untuk mendengarkan, memberikan pendampingan, dan membantu mahasiswa memperoleh akses terhadap layanan yang tepat. Semakin cepat seseorang mencari bantuan, semakin besar peluang untuk mencegah dampak yang lebih serius," ujarnya.
Melalui layanan konsultasi tersebut, Erin berharap semakin banyak mahasiswa yang berani berbicara, saling mendukung, serta berperan aktif dalam membangun budaya kampus yang menghormati martabat setiap individu dan bebas dari segala bentuk kekerasan. [Latifah]
Bagikan
Berita Terkait

Mahasiswa Manajemen UNU Jogja Gelar Inklusif Inspire, Dukung Pengembangan Potensi Anak Penyandang Disabilitas
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 16 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit

Dosen UNU Jogja Resmi Sandang Gelar Profesi Insinyur, Perkuat Kompetensi Akademik
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 15 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit
-1782888641750.png?alt=media&token=134096a3-810f-4d92-a4e1-d18d14fd78c6)
Dr. Nur Hidayah, Dosen SII UNU Jogja, Raih Hibah Visiting Research LPTNU untuk Teliti Invisibilitas Maturidiyah di Pesantren Nusantara
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 1 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit
Berita Populer
UNU Jogja Raih Terbaik 1 Anugerah Kerja Sama Diktisaintek LLDIKTI Wilayah V 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 8 Jul, 2026 | Durasi. 3 Menit
Abdul Latif, Mahasiswa Informatika UNU Jogja Raih Juara II Lomba Desain Poster Peksimiprov DIY 2026 Peksimiprov DIY 2026
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 6 Jul, 2026 | Durasi. 2 Menit
UNU Jogja Juara 1 untuk Pengelolaan Laman di Anugerah Humas Diktisaintek LLDIKTI Wilayah V
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 3 Jul, 2026 | Durasi. 4 Menit
Runner Up IV Putri Budaya Yogyakarta 2026, Mahasiswa Farmasi UNU Jogja Ajak Generasi Muda Berani Lestarikan Budaya
Diterbitkan oleh Latifatussolikhah, 29 Jun, 2026 | Durasi. 4 Menit
